Kabar

Menurut Naskah Ini Sunan Kalijaga Berdarah Tiongkok (4)

Padasuka.id – Jakarta. Pada edisi ke-3 telah diurai bahwa menurut naskah yang disebut Kronik Sam Po Kong, Sunan Kalijaga adalah tokoh berdarah Tiongkok bernama China, Gang Si Cang, putera dari Aria Wilatikta atau Haji Gang Eng Cu yang bertugas sebagai konsul untuk Kekaisaran Dinasti Ming serta menjadi kepala pelabuhan di Tuban (Jawa Timur). Mengenai kisah ini terdapat dalam lampiran ke-31 buku ‘Tuanku Rao’ karya Ir Mangaraja Onggang Parlindungan. Kemudian, lampiran ke-31 dalam buku tersebut dijadikan sumber utama penulisan buku ‘Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara‘ oleh Prof Dr Slamet Muljana yang diterbitkan pertama kali pada 1968.

Dalam buku itu Muljana menerangkan bahwa naskah Kronik Sam Po Kong berasal dari hasil penyelidikan seorang Sinolog, Residen Pootrman, pada 1928. Saat itu ia ditugaskan oleh Pemerintah Hindia Belanda untuk meneliti apakah Raden Patah yang dalam ‘Serat Kanda’ disebut Panembahan Jimbun (Jin Bun) adalah orang Tionghoa atau bukan. Singkatnya, ketika terjadi penggeledahan di Klenteng Sam Po Kong Semarang pada tahun itu ditemukan tumpukan naskah kuno berumur ratusan tahun, beraksara dan berbahasa Tionghoa yang berisi keterangan tentang Jin Bun. Naskah-naskah itu lalu diteliti oleh Pootrman.

Buku karya Prof Dr Slamet Muljana

Hasil penelitian Residen Pootrman tentang Panembahan Jinbun termuat dalam preambule (pendahuluan) suatu pre-advies (pasaran) kepada Pemerintah Belanda. Pada tahun 1928, Poortman menjadi Acting Adviseur Voor Inlandsche Zaken Van Het Binnenlandsch Bestuur di Batavia, yakni Pejabat Penasehat Urusan Pemerintahan Dalam Negeri di Jakarta. Ia menpunyai jabatan yang sangat penting. Prasaran Poortman kepada pemerintah Belanda diberi tanda GZG, singkatan dari Geheim Zeer Geheim, artinya sangat rahasia,” tulis Muljana dalam buku tersebut halaman 55.

Dijelaskan pula, prasaran itu dicetak hanya lima buah, satu di antaranya tersimpan di Gedung Negara Rijswijk, Netherland, Belanda. Satu lagi dipegang Poortman sendiri yang setelah ia meninggal dunia diwarisi oleh anaknya.

Sementara itu, lanjut Muljana, Mangaraja Onggang Parlindungan yang merupakan putra dari Sutan Martuaraja, memiliki kedekatan khusus dengan Poortman. Maka, ketika Parlindungan belajar di sekolah tinggi di Delft, Belanda, ia sempat membaca dan mengutip hasil penelitian Poortman dalam preambule tersebut yang tersimpan di Gedung Negara Rijswijk. Hasil dari kutipannya itu kemudian diurai oleh Parlidungan dalam buku ‘Tuanku Rao’ sebagai lampiran ke-31 –yang kemudian dikenal dengan istilah Kronik Sam Po Kong.

Kecuali mengurai tentang Panembahan Jimbun atau Jin Bun alias Radeh Patah serta Sunam Kalijaga, dalam naskah tersebut juga diurai tentang terbentuknya perkumpulan dakwah yang dipimpin Bong Swi Ho alias Sunan Ampel yang mengerucut pada runtuhnya Kerajaan Majapahit. Ringkasnya, Sunan Ampel dikatakan sebagai aktor intelektual di balik runtuhnya Kerajaan Majapahit.

Lantas, bagaimana pendapat sejarawan tentang naskah tersebut, Sjamsudduha dalam buku ‘Sejarah Sunan Ampel Guru Para Wali di Jawa dan Perintis Pembangunan Kota Surabaya,’ (2004) memberikan ulasan cukup rinci dari berbagai sudut. Diungkapkan, sejarawan De Graaf dan Pigeaud telah melakukan penelitian, elaborasi, dan komentar terhadap Kronik Sam Po Kong dan Talang yang disebutnya sebagai Kronik Melayu Semarang-Cerbon yang dituangkan dalam buku ‘Chanese Muslim in Java in the 15th and 16 th centuries.’

Untuk Kronik Sam Po Kong, pada intinya De Graaf dan Pigeaud berpendapat, naskah itu telah memuat penjelasan yang kontradiktif.

Dalam penyajiannya, sebenarnya Parlindungan merupakan editor yang ketiga dari kronik tersebut. Mungkin saja ia telah menggunakan naskah yang telah ditulis dalam bahasa Melayu-Cina oleh editor sebelumnya, ialah seorang keturunan Jawa- Cina yang pernah tinggal di Semarang atau di Cirebon pada abad ke-28,” demikian seperti dikutip Sjamsudduha dalam bukunya, halaman 102.

Secara garis besar, isi Kronik Sam Po Kong ditolak kebenarannya oleh sejumlah sejarawan terkemuka, bahkan dianggap hanya sebagai imajinasi dari Parlindungan semata.

Kemudian, dari sisi penemu dan peneliti naskah awalnya, yakni Residen Poortman, ternyata tidak jelas keberadaannya. Walaupun akhirnya ditemukan ada seseorang bernama Poortman di Belanda, tetapi tidak ada kaitannya dengan kisah seperti disampaikan oleh Parlindungan dan Muljana. Tidak mungkin seorang residen tidak jelas di mana sosoknya dan apa tugasnya. Maka, karena ketidakjelasan itu dapat dikatakan orang yang disebut sebagai Residen Poortman tersebut adalah tokoh fiktif. Termasuk pula keberadaan naskah yang dimaksud.

Sejarawan NU Agus Sunyoto saat ditanya soal Kronik Sam Po Kong, ia mengaku sempat melacaknya sampai ke Belanda, tetapi hasilnya nihil.

Menelaah dari berbagai sumber dapat disimpulkan bahwa keberadaan Kronik Sam Po Kong dan Residen Poortman, keduanya adalah sama-sama fiktif.

Terkait paparan di atas, lengkapnya bisa disaksikan di kanal Youtube PADASUKA TV dengan judul: “Membongkar Kebohongan Wali Songo dari Cina,” di bawah ini.

Editor : M.A.R & Anuro

1 Comment

1 Comment

  1. Avatar

    Amir maulana

    6 Juli 2020 at 7:26 pm

    Banyak versi tentang keturunan Kanjeng Sunan Kalijaga,,,ada baiknya menyelenggarakan debat ilmiah tentang garis keturunan ‘Beliau’,,,dan tugas kita sekarang yg utama adalah tinggal bagaimana kita menjaga apa yg telah diperjuangkan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top