Kabar

Viral. Frasa “Ketuhanan yang Berkebudayaan” Gantikan Sila Ke-1 Pancasila

Padasuka.id – Jakarta. Di tengah maraknya penolakan Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP) yang digulirkan DPR RI, muncul kabar bahwa sila pertama dalam Pancasila akan diubah bunyi kalimat atau frasanya. Jika yang sudah ditetapkan berbunyi, “Ketuhanan Yang Maha Esa,” akan diubah menjadi “Ketuhanan yang Berkebudayaan.” Kabar ini mendadak viral di berbagai media sosial dan yang lainnya serta menimbulkan persepsi beragam. Termasuk dari sebagian mereka yang menolak RUU HIP tersebut.

Kabar bahwa sila pertama Pancasila dalam RUU HIP diubah menjadi “Ketuhanan yang Berkebudayaan,” antara lain diunggah oleh akun Facebook Hafid Daeng Al Makassary, pada 13 Juni 2020 yang lalu. Akun ini memposting kalimat sebagai berikut:

“Dlm draft RUU HIP, Sila ke 1 Pancasila, diubah menjadi “KETUHANAN YANG BERKEBUDAYAAN.” Ada yg bisa menjelaskan?”

Untuk memperkuat klaimnya, akun ini juga menampilkan gambar tangkapan layar siaran Kabar Petang TV One bertajuk, “RUU Pancasila Buka Pintu Komunisme?” Narasumber dalam siaran itu adalah  Masinton Pasaribu anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan.

Tangkapan layar dari akun FB Hafid Daeng Al Makassary

Lantas benarkah dalam RUU HIP tertera kalimat bahwa sila pertama Pancasila “Ketuhanan Yang Maja Esa” diubah menjadi “Ketuhanan yang Berkebudayaan?” Setelah melakukan penelusuran pada siaran berita yang tangkapan layarnya diunggah oleh akun Hafid Daeng Al Makassary, ditemukanlah siaran berita itu di kanal Youtube TV One. Berita tersebut dipublikasikan ke Youtube pada 13 Juni 2020 dengan judul, “Pasal 7 RUU Pancasila HIP Tuai Kontroversi, Abdul Mu’ti: Jangan Buka Sejarah yang Harusnya Dikubur.”

Dalam siaran itu, diulas tentang frasa “Ketuhanan yang Berkebudayaan” yang tertera dalam Pasal 7 RUU HIP. Frasa ini memang menjadi kontroversi karena dianggap telah mereduksi arti ketuhanan.

Terkait hal tersebut Masinton memberikan klarifikasi. Menurutnya, frasa itu terdapat dalam pidato Bung Karno pada Sidang BPUPKI, 1 Juni 1945. Menjawab pertanyaan pembawa acara TV One, antara lain ia mengungkapkan:

“Ketuhanan yang Berkebudayaan itu kan salah satu yang (muncul) ketika Bung Karno menyampaikan konsepsi dasar negara kelak kalau Indonesia merdeka, pada tanggal 1 Juni 1945, yang kemudian dikenal sebagai hari lahir Pancasila. Nah, di si Bung Karno menegaskan dalam pidatonya bahwa dalam Ketuhanan yang Berkebudayaan itu dengan makna filosofis dan juga makna sejarah… Sebagaimana, setiap orang Indonesia itu hendaknya percaya pada Tuhan. Kemudiam, landasan kepercayaan pada Tuhan ini satu-kesatuan dengan empat sila lainnya yang menghormati kemanusiaan, kehidupan, perbedaan, dan sebagainya. Ketika kita bicara Pancasila sejak proses kelahirannya pada 1 Juni hingga 18 Agustus 1945, itu adalah satu tarikan nafas, satu rangkaian proses historis bangsa kita dalam merumuskan Pancasila. Ini sudah disampaikan secara gamblang oleh Bung Karno dalam pidato di Sidang BPUPKI itu. Jadi, ini adalah sebuah penegasan dalam rangkaian proses historis itu. Nah, tentu Pancasila yang kita kenal saat ini adalah dengan urut-urutan sila yang sekarang. Namun, sebelum dia berproses menjadi urut-urutan sila yang sekarang, ada proses historis awalnya. Nah, di situlah diletakkan dalam draf RUU ini, sebenarnya. Jadi, bukan berarti kita kemudian mengabaikan hal-hal lain yang sudah secara monumental dan bersama-sama, konsensus dasar berbangsa kita, tokoh-tokoh bangsa kita merumuskan ini dan menerima Pancasila secara bersama-sama. Maka, kesimpulannya, tidak ada yang berubah di sini. Justru saling menguatkan, menegaskan aspek historisnya, seperti itu. Kan, kita memahami fase-fase sejarah dalam bangsa kita….,” terang Masinton yang kembali menegaskan, bahwa tujuan memasukkan frasa itu agar semua elemen bangsa dapat memahami proses sejarah lahirnya Pancasila itu sendiri.

Tangkapan layar dari kanal Youtube TV One

Kemudian, menelusuri di situs resmi DPR RI terkait draf RUU HIP yang dikontroversikan itu, berikut ini narasi lengkap Pasal 7 yang memuat frasa “Ketuhanan yang Berkebudayaan,” tersebut:

(1) Ciri pokok Pancasila adalah keadilan dan kesejahteraan sosial dengan semangat kekeluargaan yang merupakan perpaduan prinsip ketuhanan, kemanusiaan, kesatuan, kerakyatan/demokrasi politik dan ekonomi dalam satu kesatuan.

(2) Ciri Pokok Pancasila berupa trisila, yaitu: sosio-nasionalisme, sosio-demokrasi, serta ketuhanan yang berkebudayaan.

(3) Trisila sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terkristalisasi dalam ekasila, yaitu gotong-royong.

Menilik dalam Pasal 7 tersebut di atas, ternyata tidak tercantum narasi bahwa sila pertama Pancasila diubah dari frasa “Ketuhanan Yang Maha Esa” menjadi “Ketuhanan yang Berkebudayaan.” Dalam kata lain, sekalipun RUU HIP tersebut menuai protes dengan berbagai alasan, namun adanya kabar bahwa RUU itu telah merubah frasa sila pertama Pancasila adalah tidak benar alias hoax.

___________

Keterangan

Gambar / ilustrasi utama adalah aksi demo menolak RUU HIP di Jakarta, Rabu, 24 Juni 2020. (Istimewa).

 

 

1 Comment

1 Comment

  1. Avatar

    Amir maulana

    6 Juli 2020 at 7:36 pm

    Politiiiiikkkk oh politiiikkkk….
    Ampuuunn dah

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top