Kabar

Tentong…!! Mereka Mancal ke Masa Silam di Jantung Kota Praja

Padasuka.id – Jakarta. Saat matahari masih sepenggalahan dan suasana kota praja masih belum begitu ramai, bahkan titik embun sisa semalam ada pula yang belum memudar, sejumlah orang datang menaiki kuda besi ramping buatan negeri seberang. Pagi itu mereka mengayuh kendaraan terfavorit di masanya dengan busana serba hitam.Adakah mereka akan meluruk Kanjeng Sinuwun di istana? Kita lihat nanti!

Sementara itu, di kanan-kiri mereka beraksi merimbun belantara beton dengan julangan gunung buatan mesin abad ke kekinian.

Tampak KHR Syarif Rahmat RA sedang mengayuh sepeda onthel bersana jamaah PADASUKA

Suasana pagi kota praja yang indah. Tampak di pertengahan jalan melingkar danau cor dengan air yang tidak pernah mengering namun entah sumbernya dari mana. Sedangkan di bagian tengahnya berdiri gagah sepasang sosok tangguh sedang melambaikan tangan yang juga entah untuk siapa.

Sementara itu, para pengayuh kendaraan abad pertengahan tersebut tampak asyik menikmati suasana pagi. Sesekali terdengar suara, “Tengtong… Tengtong… Tengtong…!!” Dialah bunyi klakson berbahan metal yang beradu seibarat demang saat menyapa serdadu.

Uraian di atas adalah gambaran saat sejumlah jamaah Padepokan Dakwah Sunan Kalijaga (PADASUKA) menikmati suasana pagi di jantung Kota Jakarta dengan mengendarai sepeda pancal tua atau yang umum disebut onthel, Minggu pagi 19 Juli 2020 kemarin. Dengan dipandu langsung oleh ketua umumnya, KHR Syarif Rahmat RA, mereka mulai “memancal” sejak sekitar pukul 07.00 WIB dengan titik kumpul di parkiran Museum Nasional (Monas). Dari sini, selanjutnya mereka mulai bergerak menuju bunderan Hotel Indonesia (HI). Setelah berhenti beberapa saat mereka kemudian memancal lagi menuju Monas. Iring-iringan kendaraan lanjut usia namun tetap perkasa itu seolah telah membawa suasana Kota Jakarta pada masa silam; Batavia yang penuh kenangan.

Ali Chatab Maulana Basya (jamaah PADASUKA) dengan sepeda tuanya yang masih tampak asli dan mulus

Aktivitas pagi itu, selain untuk menikmati suasana kota dengan cara berbeda, juga sebagai sarana olahraga dengan gaya yang berbeda pula. Lebih dari itu, ada nilai lain yang tak kalah pentingnya. Yaitu, sebagai bagian dari merawat dan melestarikan kendaraan masa silam agar tidak hilang dari peredaran hingga tak lekang digerogoti zaman.

Ya, sejumlah hikmah terselip dalam kegiatan memancal ke masa silam itu.

Lebih lanjut, simak video di bawah ini.

Editor : M.A.R & Anuro

1 Comment

1 Comment

  1. Avatar

    awang bachtiar

    20 Juli 2020 at 5:05 pm

    lestarikan budaya ontel

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top