Kabar

“Warga Madura Ngamuk, Jenazah Dituduh Covid Tidak Dikafani.” Begini Faktanya

Padasuka.id – Jawa Timur. Setidaknya, dari pekan lalu hingga hari ini di sejumlah WhatsApp Group beredar video yang berisi kerumunan warga sedang mengikuti prosesi pemakaman. Tidak lama berselang tampak seseorang mengamuk dan melempar peti jenazah yang sudah kosong. Sejumlah warga yang lain selanjutnya mengangkat dan memindahkan peti jenazah itu ke tempat yang lain.

Sebaran video tersebut disertai narasi yang diawali dengan kalimat:

“BIADAB BANGET PERLAKUAN MEREKA SAMA JENAZAH MUSLIM ‼️‼️‼️

😡😡😡,” lalu dilanjutkan dengan keterangan bahwa jenazah tersebut meninggal dunia karena penyakit jantung tetapi oleh petugas Gugus Tugas Covid-19 dinyatakan meninggal dunia karena Covid-19. Artinya, jenazah yang dimaksud hanya dituduh terpapar Covid-19 semata.

Foto: Tangkapan layar dari salah satu WhatsApp Group

Dalam sebaran yang lain, pada video yang sama, disertai narasi sebagai berikut:

“JAUH DARI LIPUTAN MEDIA

Kejadian di Madura . Saat akan di gelar prosesi pemulasaran sesuai protokol covid 19 ternyata pihak keluarga dan masyarakat marah dan menolak keras , maklum pesien sakit jantung namun di klaim dan di expose positif Covid 29.

Pihak gugus tugas : jenazah sdh di mandikan namun kenyataannya jenazah belum di kafani dan masih tetap pakai baju dan sarung. Manusia muda untuk di tipu bila kIni kejadian di Madura. Akan secara covid 19 tp fihak keluarga dan masyarakat marah sakitnya jantung dibilang kenak virus Corona. Fihak gugus tugas bilang sdh di mandikan. Ternyata jenazah belum di kafani tetap pakai baju dan sarung.

Saat Iman lemah dan Imun tubuh drop manusia mudah sekali digiring dan diarahkan menuju target .masyarakat Madura alhamdulillah, sdh pada cerdas, petugas covid jokotok, di usir masyarak.”

Lantas benarkah peristiwa itu terjadi di Pulau Madura dan jenazah yang dimaksud hanya dituduh terpapar Covid-19 semata? Melacak dari berbagai sumber, ternyata rekaman dalam video itu bukan peristiwa di Madura, melainkan terjadi di Pasuruan.

Sebelumnya, situs berita Detikcom, edisi Kamis, 16 Juli 2020, telah merilis peristiwa dalam video tersebut sesuai dengan fakta di lokasi kejadian. Situs berita ini menjelaskan, insiden itu terjadi di Desa Rowogempol, Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, pada Kamis, 16 Juli 2020 yang lalu.

Diberitakan, pada hari itu warga Desa Rowogempol merebut peti jenazah pasien yang dimakamkan dengan protokol Covid-19. Jenazah dalam peti dikeluarkan kemudian dimakamkan dengan normal. Fatalnya, jenazah tersebut sebelum meninggal dunia ternyata positif Covid-19.

Peristiwa itu bermula saat tim medis memakamkan jenazah pasien laki-laki berinisial AR (29) di TPU Desa Rowogempol, pukul 11.30 WIB (Kamis, 16/7/2020). Seratusan warga desa yang dimotori keluarga pasien mengepung dan merebut peti jenazah.

“Warga sangat banyak, para petugas diancam,” tutur Wakil Sekretaris Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Pasuruan Anang Saiful Wijaya –saat itu.

Anang menjelaskan, setelah direbut, peti jenazah dibawa ke rumah kemudian dishalati di masjid. Saat itu, posisi peti masih tertutup sesuai protokol.

“Setelah dishalati peti jenazah dibawa ke TPU untuk dimakamkan diantar ratusan warga,” terang Anang lagi.

Kemudian, hal tidak terduga terjadi saat prosesi pemakaman. Warga membongkar peti dan memakamkan jenazah seperti pada umumnya. Pihak keluarga pasien yang menguburkan. Sedangkan peti dibuang warga dan petugas tidak bisa berbuat apa-apa.

Masih menurut Anang, pada saat jenazah dimakamkan, pukul 11.00 WIB, hasil swab-nya belum keluar. Hasil swab-nya keluar pada pukul 13.00 WIB dan pasien tersebut memang terkonfirmasi positif Covid-19.

Lebih lanjut Anang membeberkan bahwa pasien tersebut dibawa berobat ke RSUD Grati, dengan keluhan sakit sesak nafas, Selasa (14/7/2020). Sebelum dibawa ke rumah sakit, pasien sudah mengeluh sesak nafas selama 14 hari.

Setelah menjalani pengobatan sampai Rabu siang (15/7/2020), kondisi pasien mulai membaik. Namun, hasil foto torax menunjukkan pasien berinisial AR itu mengalami pneumonia dan hasil rapid test reaktif. “Sehingga tim dokter pun melakukan tes swab,” jelas Anang.

Foto: Tangkapan layar dari video yang dimaksud

Malam harinya, kondisi kesehatan AR menurun dan sesak nafasnya kambuh. Berikutnya, ia tidak tertolong dan dinyatakan meninggal dunia pada pukul 05.00 WIB.

Masalah timbul, karena hasil swab-nya belum turun, keluarganya tidak mau memakamkan almarhum AR dengan protokol Covid-19. Namun setelah berunding keluarganya mengizinkan asal pemulasaraannya di RSUD R Soedarsono Kota Pasuruan.

“Namun saat akan dimakamkan, terjadilah insiden warga merebut jenazah siang tadi,” terang Anang pada Detikcom, Kamis (16/7/2020).

____________

Kesimpulannya adalah bahwa narasi yang menyertai sebaran video yang beredar di jejaring WhatsApp sebagaimana diungkap di atas adalah kabar bohong alias hoax.

Editor : M.A.R & Anuro

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top