Kabar

Melalui Seutas Tali Mereka Tembusi Perut Bumi Hingga Dini Hari

Padasuka.id – Wonogiri. Saat gelap membalut malam dan udara dingin menusuk tulang, di dataran lembah berjurang, satu persatu mereka naik ke permukaan melalui seutas tambang. Di saat kebanyakan orang sedang menikmati mimpi dalam pelukan bantal, atau yang lain tengah tengadah dalam ritual ibadah, mereka berjibaku dengan waktu untuk satu tujuan yang bukan untuk mereka. Ya, mereka adalah sejumlah aktivis kemanusiaan dari Mapala Gapadri Institut Teknologi Yogyakarta (ITNY). Mereka sedang melakukan pekerjaan lanjutan dari satu harapan yang telah mereka persembahkan untuk kemanusiaan di bumi Gendayakan.

Ulasan di atas adalah gambaran saat sejumlah anggota tim dari Mapala Gapadri ITNY naik dari dasar Goa Jomblang (berkedalaman 180 meter) di Dusun Ngejring, Desa Gendayakan, Kecamatan Paranggupito, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Setelah sehari sebelumnya, Senin, 27 Juli 2020, pada sekitar pukul 13.00 WIB mereka berada di dalam goa vertikal itu untuk mengerjakan berbagai hal, kemudian pada Selasa, 28 Juli 2020, dari sekitar pukul 01.00 — 02.17 WIB, secara bergantian mereka berhasil kembali ke atas permukaan goa dengan selamat.

Anggota tim yang berada di atas goa

Seperti telah sering diberitakan di media ini, goa vertikal (luweng) yang kemudian disebut Goa Jomblang Ngejring itu memiliki kandungan sungai bawah tanah yang airnya berhasil diangkat ke permukaan (dieksplorasi) untuk kepentingan warga setempat yang selalu dilanda musibah kekeringan. Setelah berhasil dieksplorasi sejak September 2019 dan diresmikan pada Desember 2019 tahun lalu, air bawah tanah tersebut sudah dapat dinikmati oleh warga setempat –bahkan oleh sejumlah warga desa tetangga.

Namun demikian, sebagai air yang diangkat dari dasar goa yang sangat dalam, berbagai kendala sangat mungkin akan terjadi. Satu misal, pada bulan Mei 2020 yang lalu terjadi kerusakan beberapa instalasi di dalam goa karena kejatuhan serumpun bambu dari bibir goa yang ambrol akibat derasnya hujan. Di bulan ini (Juli 2020) kembali terjadi kendala yang menyebabkan air tidak bisa naik ke atas permukaan, meskipun mesin pompa masih bisa menyala. Karenanya, pada Senin, 27 Juli kemarin, tim teknis dari ITNY itu kembali turun ke dalam goa. Hanya saja, kali ini mereka bukan untuk melakukan perbaikan semata melainkan juga melakukan pengecekan sebagai langkah untuk menyempurnakan hasil pekerjaan sebelumnya agar mesin pompa dan instalasi pendukungnya di dalam goa dapat terptoteksi dan lain sebagainya.

“Hal yang sangat lumrah jika mesin atau instalasi berada pada kedalaman seperti itu akan mengalami berbagai kendala atau kerusakan. Sebab, secara teori grafitasi, batu kecil saja yang jatuh pada kedalaman seperti itu memiliki daya dorong yang sangat kuat. Nah, apabila menimpa mesin, pipa, atau yang lainnya sangat mungkin akan mengalami kerusakan. Sejauh ini sudah ada material pelindungnya di dalam goa itu, tetapi kekuatan serta proteksi lainnya yang lebih sempurna, terutama yang diakibatkan oleh faktor alam, tetap perlu ditingkatkan. Karena goa tersebut berada di bawah tebing berbatu yang di sekeliling permukaannya banyak ditumbuhi pepohonan, maka pembuatan pelindung yang bersifat menyeluruh sangat diperlukan,” ujar Sulaiman Tampubolon, ST, M.Eng., Dosen ITNY yang mendampingi tim teknis tersebut.

Sesuai rilis yang diterima Padasuka.id, kali ini, kehadiran tim teknis dari ITNY ke Goa Jomblang Ngejring yang juga didampingi oleh Kiai Mohammad Wiyanto (Gus Yayan) dari Padepokan Dakwah Sunan Kalijaga (PADASUKA) adalah untuk melakukan tiga hal sekaligus. Yakni, melakukan perbaikan, pengukuran rencana proteksi, dan pra pengkondisian pendampingan (sosialisasi lanjutan dan pelatihan) terhadap masyarakat setempat.

Muhammad Abdul Aziz (Dengen) sesaat setelah berhasil naik ke atas permukaan goa, Selasa (28/7/2020) pada pukul 02.20 WIB dini hari

Aktivitas yang dimulai dari Senin kemarin dan direncanakan hingga Rabu lusa (29/7/2020) itu menurunkan 11 orang, terdiri dari:

  1. Mohammad Wiyanto, ST, S.Pd
  2. Sulaiman Tampubolon, ST, M.Eng.
  3. Henri
  4. Karet
  5. Malolo (Karunia Adi)
  6. Moci (Dian Nuranisyah Dano)
  7. Lanang
  8. Dengen (Muhammad Abdul Azis)
  9. Omes (Septyo Darmawan)
  10. 10. Satang
  11. Joko (Padasuka Soloraya)

Dari sejumlah orang yang tergabung dalam tim teknis tersebut, menurut keterangan Gus Yayan, mereka berbagi tugas. Tiga orang bertugas di dalam goa, satu orang bertugas di bibir goa, dan empat orang lainnya bertugas menjaga lintasan houling yang juga dibantu oleh warga sekitar.

“Untuk pekerjaan dan pengkondisian masyarakat tahap awal, kita lakukan hari ini hingga Rabu ke depan, sekaligus melakukan perbaikan dan prepare proteksi alat yang di dalam goa,” terang Gus Yayan kepada Padasuka.id, Senin sore (27/7/2020).

“Sementara untuk pekerjaan proteksi dan pendampingan masyarakat secara menyeluruh kita laksanakan setelah Idul Adha nanti,” punngkasnya.

__________

Untuk mengetahui lebih lanjut kondisi Goa Jomblang Ngejring serta kendala apa saja yang dihadapi saat eksplorasi dan lain sebagainya, dapat disaksilan di kanal Youtube Padasuka TV dengan judul:

1-Para Pahlawan Ini Pertaruhkan Nyawa untuk Mengangkat Harta Karun

2-Mengenang Kembali Tangis Haru Warga Ngejring

3-Menembus Perut Bumi 180 Meter PADADUKA & Gapadri ITNY Diganjar MURI

4-Menegangkan! Eksplorasi Air di Sarang Jin

Di Antaranya Adalah Video di Bawah Ini

Menegangkan..! Selain nyawa taruhannya, explorasi air bawah tanah ini ternyata diteror oleh mahluk gaib (JIN). Bagaimana kisah menegangannya, simak videonya hanya di PadasukaTV.

 

Editor : M.A.R & Anuro

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top