Kabar

Mengacu Pada Geger Sepehi, Inggris Didesak Kembalikan Emas 57000 Ton

Padasuka.id – Yogyakarta. Setelah beratus tahun berselang, trah Sultan Ngayogyakarta Hadiningrat ke-2 yakni Sri Sultan Hamengku Buwono II (HB II) meminta bantuan Pemerintah Republik Indonesia agar Negara Inggris mengembalikan aset dan harta benda milik Sri Sultan HB II yang dijarah oleh tentara Inggris pada tahun 1812. Yang mana, pada kurun waktu antara 1811 — 1812 terjadi penyerbuan oleh tentara Inggris ke Keraton Yogyakarta yang dikenal dengan istilah “Geger Sepehi.”

“Pada tahun 1812 itu memang terjadi serbuan ke Keraton Yogyakarta yang dilakukan oleh bala tentara Inggris. Peristiwa tersebut dikenal dengan Perang Sepehi atau Geger Sepehi,” ungkap Fajar Bagoes Poetranto, Sekretaris Pengusul Pahlawan Nasional HB II, kepada awak media di Jakarta, Rabu (22/7/2020) yang lalu.

Sri Sultan Hamengku Buwono II (Raden Mas Sundoro) wafat pada 3 Januari 1828 dalam usia 77 tahun (Dok. Istimewa)

“Kami mengharapkan harta dan benda bersejarah yang dijarah tentara Inggris pada Perang Sepehi tahun 1812 untuk dikembalikan. Barang-barang tersebut merupakan salah satu bagian dari milik Keraton Yogyakarta di masa Raja Sri Sultan Hamengku Buwono II,” ujar Fajar.

Menurut penuturan Fajar, dalam peperangan itu harta dan barang-barang berharga milik Keraton Yogyakarta yang dijarah oleh Inggris, sesusai informasi yang diterimanya, antara lain berupa logam emas seberat 57000 ton.

“Kami meminta agar emas tersebut dikembalikan kepada pihak Keraton atau para keturunan dari Sinuwun Sri Sultan Hamengku Buwono II,” tegas Fajar.

Ditambakan Fajar, selain ribuan ton emas yang dijarah, terdapat dokumen penting kerajaan, berbagai manuskrip yang ditulis Sri Sultan HB II tentang sastra dan budaya keraton, serta sejumlah benda pusaka milik keraton juga diangkut oleh tentara Inggris. Tidak terkecuali, perhiasan yang sedang dipakai Sri Sultan HB II pada saat itu pun turut dirampasnya.

Sekilas Tentang Geger Sepehi

Perang atau Geger Sepehi terjandi setelah Inggris menduduki Pulau Jawa. Seperti telah umum diketahui, pada 4 Agustus 1811, tentara Inggris menyerbu Batavia dan berhasil mengalahkan pasukan Belanda yang saat itu menduduki Pulau Jawa. Atas kemenangannya, Pulau Jawa akhirnya jatuh ke tangan Inggris.

Melansir dari situs Kratonjogja.id (Selasa, 19 Juni 2018) ketika Inggris menguasai Jawa, sikap penolakan Sri Sultan HB II terhadap  arogansi Inggris sama seperti ketika ia menentang kesewenang-wenangan Belanda yang saat itu berada di bawah kepemimpinan Gubernur Jenderal Daendels.

Sebagai akibat perpindahan kekuasaan dari Belanda ke Inggris, Pulau Jawa kemudian menjadi bagian dari koloni Inggris yang berpusat di Kalkuta. Gubernur Jendral Inggris di Kalkuta, Lord Minto, menunjuk Thomas Stamford Raffles sebagai Letnan Gubernur di Jawa. Melihat perubahan ini, Sri Sultan HB II yang disebut Sultan Sepuh –karena tahtanya di masa penundukan Belanda (Daendels) dipaksa untuk diserahkan ke putra makhotanya– memanfaatkan situasi tersebut untuk mengambil alih kembali kekuasaan atas kerajaan.

Prasasti Geger Sepehi (Sumber : kratonjogja.id)

Kemudian, Raffles pun segera membuat kebijakan-kebijakan baru dan pada bulan November 1811 menunjuk John Crawfurd sebagai Residen Yogyakarta. Kebijakan Raffles terkait pertanahan dan pengelolaan keuangan, ternyata tidak jauh berbeda dengan kebijakan Daendels. Hal ini membuat Sri Sultan HB II tidak berkenan. Sikap penentangan mulai muncul, bahkan ia menghimpun kekuatan secara terang-terangan. Raffles melihat hal tersebut sebagai ancaman, hingga kemudian mengirim pasukan di bawah pimpinan Colonel Robert Rollo Gillespie menyerang Yogyakarta.

Jatuhnya Keraton Yogyakarta

Pada tanggal 17 Juni 1811 malam, pasukan Inggris memasuki Yogyakarta. Namun pasukan Yogyakarta berhasil melukai dan menghalau bala tentara Inggris.

Keesokan harinya Inggris mengirim utusan untuk bernegosiasi dengan Sri Sultan HB II, namun utusan itu ditolak. Sekembalinya utusan tersebut ke pasukan Inggris, api peperangan pun mulai berkobar. Tembakan meriam terdengar dari arah Keraton Yogyakarta, menandakan sikap tidak mau kompromi dari Sri Sultan HB II.

Situasi keraton kala itu digambarkan oleh Mayor William Thorn, seorang prajurit yang tergabung dalam pasukan Inggris, sebagai benteng pertahanan yang kokoh. Di sekeliling kraton terdapat parit-parit lebar dan dalam, dengan jembatan yang bisa diangkat sebagai pintu akses masuknya. Terdapat pula beberapa bastions tebal yang dilengkapi dengan meriam. Tembok-tembok tebal yang mengelilingi halaman-halaman istana dilengkapi dengan prajurit bersenjata. Pintu utama menuju keraton juga dilengkapi dengan dua baris meriam. William Thorn mencatat, setidaknya ada 17.000 prajurit dan ratusan warga bersenjata tersebar di kampung-kampung mempertahankan wilayah Yogyakarta.

Kekuatan utama serangan pasukan Inggris diarahkan ke sisi timur laut benteng. Dalam Babad Sepehi disebutkan bahwa bagian ini tidaklah terjaga kuat. Serangan tidak berjalan terlalu lama, hanya beberapa jam saja sudut benteng ini runtuh dengan diawali meledaknya meriam dan gudang mesiu. Sekitar pukul 8 pagi, benteng benar-benar jatuh ke tangan pasukan Inggris.

Segera setelah beteng ini direbut, pasukan Sepoy mengarahkan seluruh meriam ke arah Keraton Yogyakarta. Serangan ini kemudian disusul dengan masuknya pasukan dari arah Gerbang/Plengkung Nirbaya yang berhasil dikuasai. Sri Sultan HB II kemudian menyerah ketika pasukan Inggris berhasil masuk ke Plataran Srimanganti.

Kerugian Pasca Geger Sepehi

Setelah peristiwa ini, Keraton Yogyakarta mengalami kerugian besar. Tidak hanya kekayaan materi yang dijarah, namun juga kekayaan intelektual. Ribuan naskah dari perpustakaan keraton dijarah. Raffles kemudian memanfaatkan pengetahuan dan wawasan Pangeran Natakusuma di bidang sastra untuk memilah dan menginventarisasi naskah naskah tersebut sebelum dibawa ke Inggris.

Pada masa ini pula, Pangeran Natakusuma diberikan status sebagai pangeran merdeka dan memiliki wilayah sendiri. Pangeran Natakusuma diberikan tanah seluas 4000 cacah yang diambil dari wilayah Yogyakarta, dan kemudian memperoleh gelar Pangeran Pakualam I. Wilayahnya setingkat kadipaten dan dinamakan Pakualaman. Sri Sultan HB II sendiri kemudian diasingkan ke Penang.

Pada 1 Agustus 1812, pemerintah Inggris memaksa Keraton Yogyakarta dan Surakarta untuk menandatangani perjanjian yang sangat merugikan bagi bangsawan-bangsawan Jawa. Perjanjian tersebut memangkas kekuatan militer kerajaan sampai sebatas yang diizinkan Inggris. Beberapa wilayah mancanegara dan negaragung, seperti Japan (Mojokerto), Jipang, dan Grobogan, diambil paksa sehingga membuat para pejabat yang memerintah di sana kehilangan jabatan dan penghasilan. Pengelolaan gerbang-gerbang cukai jalan dan pasar juga diserahkan kepada Inggris, ini tidak hanya menghilangkan pendapatan dari pungutan tapi juga membuat perdagangan dikuasai oleh pihak asing. Selain itu, Inggris juga menetapkan bahwa semua orang asing dan orang Jawa yang lahir di luar wilayah kerajaan berada dalam hukum kolonial. Mereka tidak lagi dapat diadili di bawah hukum Jawa-Islam.

Kebijakan-kebijakan tersebut membuat pergolakan besar dalam masyarakat Jawa. Ketidakpuasan dan rasa kekecewaaan inilah yang kemudian menjadi salah satu pemicu Perang Jawa (1825-1830). Geger Sepehi tidak hanya sebuah sejarah kekalahan yang meruntuhkan kewibawaan, namun juga menjadi tonggak lahirnya tata dunia baru di tanah Mataram yang akibat-akibatnya masih dapat terus dirasakan hingga saat sekarang.

Editor : M.A.R & Anuro

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top