Kabar

Geger Jenazah Pasien Dimakamkan Tetap Berdaster, Begini Kronologinya

Padasuka.id – Medan. Dalam pekan ini media sosial dan jejaring WhatsApp digegerkan dengan beredarnya foto yang menampilkan gambar peti janazah terbuka dan di dalamnya tampak sesosok janazah berbalut kain kafan namun tetap mengenakan daster. Menurut keterangan gambar yang beredar di sejumlah WhatsApp Group (WAG) peristiwa itu terjadi di Medan, Sumatera Utara. Dalam narasi yang diaertakan, poin yang paling menonjol adalah: bahwa perawatan jenazah tersebut tidak sesuai dengan syariat Islam.

“Seorang ibu yang awalnya segar bugar, sekedar ingin mengecek kesehatan apakah terbebas dari corona. Justru setelah melewati tes kesehatan, kondisinya berubah drastis.

Setelah 10 hari di ruang isolasi, dan oleh rumah sakit (dinyatakan) Meninggal jadi pasien postif covid 19 di RSU Sembiring, Medan.

Di kuburkan di perkuburan suka maju stm sesuai protokol kesehatan.

Ternyata ketika dikuburkan. Alloh memperlihatkan bukti rekayasa  kebohongan virus korona. Dengan cara peti jenazah tidak muat ketika hendak dimasukan kubur, pihak keluarga yang awalnya keluarga hanya boleh melihat dari jauh, kemudian mendekati paksa dan coba membuka peti, dan ternyata si mayat di kuburkan pihak rumah sakit seperti binatang masih menggunakan daster (tidak sesuai dgn syariat fardhu kifayah islam),” demikian salah satu narasi yang beredar di sejumlah WAG menyertai foto yang dimaksud.

Kalau pada pada narasi di atas disebutkan pasien awalnya segar bugar, pada WAG yang lain dikatakan pasien tersebut meninggal dunia memang karena positif Covid-19.

Foto: Tangkapan layar dari salah satu WAG

“Meninggal postif covid 19 di RSU Sembiring, Medan. Di kuburkan di perkuburan suka maju stm sesuai protokol kesehatan. Ternyata peti jenazah tidak muuat, maka pihak keluarga membuka peti, dan ternyata si mayat masih menggunakan daster (tidak sesuai dgn syariat fardhu kifayah islam). Yg penting dapat target, cair dananya,” demikian narasi yang lain lagi menyertai sebaran foto yang sama.

Benarkan jenazah tersebut aslinya memang dalam kondisi mengenakan daster yang dibalut kain kafan, atau sebuah rekayasa foto belaka? Setelah melakukan penelusuran ternyata jenazah itu memang benar seorang perempuan dan tercatat sebagai pasien Rumah Sakit Umum (RSU) Sembiring, Kecamatan Deli Tua, Kabupaten Deli Serdang, Medan, Sumatera Utara. Sebelumnya, pasien masuk rumah sakit pada Kamis, 23 Juli 2020 dan meninggal dunia esok harinya.

Melansir dari situs betita IDN Times, jenazah perempuan itu dikuburkan sesuai dengan protokol Covid-19 di Pemakaman Suka Maju, Jalan STM Medan. Tetapi kemudian masalah timbul saat pemakaman dilangsungkan. Di mana, peti jenazah tidak muat masuk ke liang lahat. Akhirnya, keluarga almarhumah membuka peti jenazah. Dari sini terlihatlah bahwa jenazah itu masih dalam kondisi mengenakan daster di balik kain kafannya.

Menanggapi peristiwa itu, Lurah Suka Maju, Harry Agus Perdana, membenarkannya. Dia mengatakan pasien tersebut masuk ke RSU Sembiring pada Kamis, 23 Juli dengan catatan penyakit jantung. Namun, pada Jumat, 24 Juli (subuh) pasien tersebut dinyatakan meninggal dunia.

“Ketika saya hadir di lokasi, kondisi peti jenazah sudah terbuka. Tidak tahu pasti siapa yang membuka. Ada info di lapangan bahwa pihak keluarga yang membuka peti. Tapi, itu belum dipastikan Covid-19 atau tidak. Informasi yang kami terima dari rumah sakit, warga kita yang meninggal hasil rapid test-nya reaktif,”  kata Harry pada IDN Times.

Oleh karena hasil rapid test pasien itu reaktif, pihak rumah sakit mengarahkan keluarga agar pemakaman dilakukan sesuai protokol Covid-19. Meski sempat ada penolakan, akhirnya keluarga menerima dengan kesepakatan bahwa jenazah dimakamkan di pemakaman Covid-19 dan tetap dilakukan sesuai protokol Covid-19.

“Waktu proses pemakaman awal, tidak ada masalah. Tapi info yang diterima dari keluarga, petinya tidak muat. Lalu, oleh keluarga, petinya dibongkar sehingga nampaklah jenazah yang masih berdaster itu,” lanjut Harry.

Karena masih berdaster keluarga pasien menuding pihak rumah sakit belum memandikan jenazah almarhumah. Namun menurut Harry setelah ia menanyakan langsung pada pihak petugas, dikatakan bahwa pihak rumah sakit memastikan jenazah tersebut telah dimandikan sebelum dikafani dan dimasukkan ke dalam peti.

“Saya tanya petugas itu, ‘Ini bagaimana jenazah? Apakah sudah dimandikan atau bagaimana?’ Jawaban dari petugas RSU Sembiring, ‘Pak, sudah kita mandikan. Saya langsung yang mandikan, Demi Allah.’,” terang Harry seraya mengulangi perbincangannya dengan petugas.

Kemudian, Harry pun berupaya memediasi keluarga dengan pihak rumah sakit yang sempat terlibat keributan. Akhirnya, pemakaman dilanjutkan sesuai dengan protokol Covid-19

Terkait pengurusan janazah yang masih mengenakan pakaian aslinya, seperti peristiwa di atas, Juru Bicara Gugus Tugas Covid-19 Sumatera Utara, Aris Yudhariansyah, menenjelasan protokol pengurusan jenazah pasien Covid-19 sesuai fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI). Menurutnya, MUI telah mengeluarkan fatwa berkenaan dengan hal tersebut.

“Fatwa MUI Nomor 18 Tahun 2020 bagi jenazah yang menurut medis dapat dimandikan, jenazah dimandikan tanpa harus dibuka pakaiannya,” terang Aris seperti dikutip dari Detikcom.

Selain itu, lanjut Aris, menurut fatwa MUI, jenazah bisa hanya ditayamumkan saja.

Tangkapan layar dari video yang berisi rekaman keributan dalam prosesi penguburan yang menyertai sebaran foto jenazah berdaster dalam peti

“Jika petugas yang memandikan tidak ada yang berjenis kelamin sama (dengan jenazah), dimandikan oleh petugas yang ada dengan syarat jenazah tetap memakai pakaian. Jika tidak, ditayamumkan,” terang Aris.

Fatwa MUI Nomor 18 Tahun 2020

Agar lebih jelas, berikut ini akan ditampilkan fawa MUI Nomor 18 Tahun 2020 tentang pedoman pengurusan jenazah (tajhiz al-jana’iz) muslim yang terinfeksi Covid-19. Fatwa ini menegaskan kembali Fatwa MUI Nomor 14 Tahun 2020 angka 7 yang menetapkan:

“Pengurusan jenazah (tajhiz al-jana’iz) yang terpapar Covid-19, terutama dalam memandikan dan mengafani, harus dilakukan sesuai protokol medis dan dilakukan oleh pihak yang berwenang dengan tetap memperhatikan ketentuan syariat. Sedangkan untuk mensalatkan dan menguburkannya dilakukan sebagaimana biasa dengan tetap menjaga agar tidak terpapar Covid-19.”

Adapun pedoman memandikan jenazah yang terpapar Covid-19 adalah sebagai berikut:

Jenazah dimandikan tanpa harus dibuka pakaiannya.

-Petugas wajib berjenis kelamin yang sama dengan jenazah yang dimandikan dan dikafani.

-Jika petugas yang memandikan tidak ada yang berjenis kelamin sama, maka dimandikan oleh petugas yang ada, dengan syarat jenazah dimandikan tetap memakai pakaian. Jika tidak, maka ditayamumkan.

-Petugas membersihkan najis (jika ada) sebelum memandikan.

-Petugas memandikan jenazah dengan cara mengucurkan air secara merata ke seluruh tubuh.

-Jika atas pertimbangan ahli yang terpercaya bahwa jenazah tidak mungkin dimandikan, maka dapat diganti dengan tayamum sesuai ketentuan syariah, yaitu dengan cara: 1) mengusap wajah dengan kedua tangan jenazah (minimal sampai pergelangan) dengan debu, 2) untuk kepentingan perlindungan pada saat mengusap, petugas tetap menggunakan alat pelindung diri (APD).

Jika menurut pendapat ahli yang terpercaya bahwa memandikan atau menayamumkan tidak mungkin dilakukan karena membahayakan petugas, maka berdasarkan ketentuan dlarurah syar’iyyah, jenazah tidak dimandikan atau ditayamumkan.

Adapun pedoman mengafani jenazah yang terpapar Covid-19 adalah sebagai berikut:

-Setelah jenazah dimandikan atau ditayamumkan, atau karena dlarurah syar’iyyah tidak dimandikan atau ditayamumkan, maka jenazah dikafani dengan menggunakan kain yang menutup seluruh tubuh dan dimasukkan ke dalam kantong jenazah yang aman dan tidak tembus air untuk mencegah penyebaran virus dan menjaga keselamatan petugas.

-Setelah pengafanan selesai, jenazah dimasukkan ke dalam peti jenazah yang tidak tembus air dan udara dengan dimiringkan ke kanan sehingga saat dikuburkan jenazah menghadap kea rah kiblat.

-Jika setelah dikafani masih ditemukan najis pada jenazah, maka petugas dapat mengabaikan najis tersebut.

Kesimpulan

Dari uraian di atas, terdapat beberapa poin kesimpulan. Bahwa janazah itu dimakamkan dengan tetap mengenakan daster di balik kain kafannya adalah sesuai fakta. Adapun klaim bahwa pasien masuk rumah sakit dalam kondisi segar bugar dan hanya akan memeriksakan diri terbebas dari Covid-19 atau tidak? Tidak sesuai fakta, karena ia masuk rumah sakit dengan catatan penyakit jantung. Hanya saja, sejauh itu belum dipastikan apakah pasien benar-benar terinfeksi Covid-19 atau tidak, sebab penguburan dengan cara protokol Covid-19 mengacu pada hasil rapid test-nya yang reaktif –bukan hasil swab test. Namun, hal itu dilakukan setelah ada kesepakatan antara puhak rumah sakit dengan pihak keluarga pasien. Sedangkan pernyataan pengurusan janazah tidak sesuai syariat Islam, jika mengacu pada keteragan petugas serta mengacu pula pada fatwa MUI, pernyataan tersebut adalah keliru.

Editor : M.A.R & Anuro

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top