Kabar

Ontran-ontran Suksesi di Keraton Kasepuhan Cirebon Kian Memanas

Padasuka.id – Cirebon. Setelah wafatnya Sultan Sepuh XIV Pangeran Raja Adipati (PRA) Arief Natadiningrat, SE, persoalan yang dibalut isu suksesi di Keraton Kasepuhan Cirebon (Jawa Barat) kian memanas. Sebagaimana telah diberitakan, Pangeran Arief wafat pada Rabu, 22 Juli 2020, pukul 5.20 WIB setelah sebelumnya sempat dirawat di sebuah rumah sakit di Bandung, Jawa Barat,

Setelah sebelumnya terjadi penyegelan pintu Keraton Kasepuhan Cirebon saat Pangeran Arief sedang dirawat di Bandung, persoalan yang mengemuka belakangan ini adalah mengenai trah Sultan Sepuh sejak yang ke-6 sampai saat ini. Seperti telah pula diberitakan di media ini, sejak Sultan Sepuh VI yang menjadi Raja Kesultanan Kasepuhan Cirebon bukanlah dari trah Sunan Gunung Jati tetapi dari pihak lain. Saat itu terjadi tragedi suksesi atas Sultan Sepuh V Pangeran Mochammad Syafiudin Matangaji yang wafat dibunuh (pada 1786 M), kemudian penggantinya dinobatkan oleh pihak Pemerintah Belanda yang sedang menjajah Nusantara.

Penggembokan pintu Keraton Kasepuhan Cirebon pada Juni 2020 oleh R Rahardjo Djali

Secara berkala, kehebohan atau ontran-ontran di Keraton Kasepuhan Cirebon era kini, setidaknya mulai mengemuka di khalayak umum sejak terjadinya penggembokan pibtu Dalem Arum Keraton Kasepuhan serta penurunan foto Sultan Sepuh XIV PRA Arief Natadiningrat pada Juli 2020 yang lalu. Aksi ini direkam dalam video lalu beredar di media sosial.

“Hari ini, Sabtu 26 Juni 2020, kami Keturunan Asli Sultan Sepuh XI Jamaludin Aluda Tajul Arifin dengan ini menyatakan mengambil alih Keraton Kasepuhan dari tangan Saudara Arief (Sultan Sepuh XIV PRA Arief Natadiningrat, Red). Demikian pernyataan kami buat untuk disebarluaskan ke Pemerintah Kota Cirebon, Jawa Barat dan Masyarakat Kota Cirebon,” ungkap pria dalam video yang sempat viral itu dan diketahui bernama Raden Rahardjo Djali.

Terkait penyebab hingga keraton itu digembok, Rahardjo yang mengaku sebagai cucu dari istri kedua Sultan Sepuh XI Jamaludin Aluda Tajul Arifin, yakni Nyi Mas Rukjah, terkejut saat datang ke Keraton Kasepuhan mendapati kondisinya yang dianggap tidak terawat.

Aksi Rahardjo tidak berhenti hanya sampai di situ, setelah Sultan Sepuh XIV PRA Arief Natadiningrat wafat lalu digantikan oleh putera mahkotanya, Pangeran Luqman Zulkaedin, ia menggelar ikrar sebagai Polmak atau orang yang diberi kuasa sebagai pelaksana tugas (Plt.) Sultan Keraton Kasepuhan. Pengukuhan dirinya sebagai Polmak berlangsung di Masjid Agung Sang Cipta Rasa, Komplek Keraton Kasepuhan, pada Kamis (6/8/2020).

Seperti diberitakan oleh sejumlah media lokal, dalam gelaran itu, Rahardjo membacakan ikrar dengan disaksikan oleh sesepuh keluarga Keraton Kasepuhan dari putera Ratu Wulung, Pangeran Mas Upi Suriadi.

Pembacaan ikrar Rahardjo sebagai Polmak Sultan Keraton Kasepuhan kemudian mendapat tanggapan dari Putra Mahkota Pangeran Luqman Zulkaedin. Ia menegaskan bahwa dirinya adalah pewaris yang sah atas takhta Sultan Keraton Kasepuhan.

Melansir dari Pikiran-Rakyat.com, Luqman menyebutkan, Keraton Kasepuhan Cirebon telah menjalankan adat dan tradisinya sejak ratusan tahun yang lalu. Termasuk hal pergantian (suksesi) sultan. Di mana pengukuhannya disematkan kepada putera mahkota oleh sultan yang masih bertakhta.

“Dalam hal ini Putera Mahkota PRA Luqman Zulkaedin telah ditetapkan sebagai Putera Mahkota oleh Sultan Sepuh XIV Keraton Kasepuhan Cirebon pada 30 Desember 2018,” ungkap Luqman melalui pesan singkatnya kepada Pikiran-Rakyat.com,  Kamis (6/8/2020) sore.

Dia pun menjelaskan tradisi pergantian kepemimpinan dalam Keraton Kasepuhan. Ketika sultan mangkat, maka secara otomatis penerus dan tanggung jawab kepemimpinan dilanjutkan kepada putera mahkota yang telah ditetapkan.

“Jadi yang dilakukan oleh Saudara Rahardjo cs bertentangan dengan tradisi turun temurun di Kesultanan Kasepuhan,” tegas Luqman.

Ditegaskan kembali oleh Luwman, kendali kekuasaan keraton baik secara de jure maupun de facto masih berada di tangannya.

“Tidak ada pengaruh apa-apa. Situasinya tetap aman kondusif,” kata dia.

Dia melanjutkan, bahwa tindakan Rahardjo yang telah melakukan ikrar sebagai Polmak Keraton Kasepuhan tidak bisa diterima. Ia bahkan menyayangkan karena perbuatan Rahardjo tersebut sudah dilakukan bahkan saat Sultan Sepuh XIV sedang mengalami sakit keras.

Pangeran Luqman Zulkaidin dalam sebuah acara (Istimewa)

“Dengan melakukan hal tersebut di saat wargi keraton masih berduka tentunya sangat disayangkan. Terlebih sebelumnya, mereka melakukan penggembokan keraton dan memviralkanya itu sudah tidak bisa diterima,” lanjut Luqman.

Selain diwarnai aksi Rahardjo yang berikrar sebagai Polmak, penobatan Pangeran Luqman sebagai Sultan Sepuh XV Keraton Kasepuhan Cirebon juga mendapat penolakan dari sejumlah pihak. Di antranya datang dari Sultan Kaprabonan Dr Ir Pangeran Hempi Raja Kaprabonan, MP dan Pangeran Kuda Putih. Yang pada intinya mereka menghendaki agar pemangku takhta Keraton Kasepuhan Cirebon dikembalikan kepada trah Sunan Guung Jati sebagai pewaris yang sah.

Melalui secarik surat antara lain Pangeran Hempi Raja Kaprabonan menyatakan, “Dengan dasar sejarah terdahulu, dan sekarang telah menjadi Negara Republik, maka keutuhan keturunan Kasultanan Kasepuhan harus dikembalikan kepada Trah / Nasab yang sebenarnya agar kedudukan Sultan Kasepuhan benar-benar keturunan Aseli Sunan Gunung Jati sehingga Do’a dan Marwah Sultan Kasepuhan nyambung dengan leluhurnya.”

Sehingga dengan demikian, Hempi berpendapat bahwa penerus Sultan Sepuh XIV tidak dapat dilanjutkan oleh puteranya.

“Jadi Penerus Sultan Sepuh ke XIV tidak dapat diteruskan oleh puteranya, karena akan menjadi masalah berkepanjangan dari keturunan punggel yang bukan keturunan Sunan Gunung Jati,” tegas Hempi dalam suratnya.

Senada dengan Pangeran Hempi adalah pendapat yang disampaikan oleh Pangeran Kuda Putih. Untuk lebih jelasnya silahkan simak video di bawah ini.

Editor : M.A.R & Anuro

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top