Kabar

“Setem” Dikenal dan Dipakai dalam Sidang BPUPKI dan PPKI, Kini Kemana?

Padasuka.id – Jakarta. Seiring bergulirnya waktu terjadi pergeseran pula dalam berbagai hal. Termasuk di antaranya adalah pemakaian kata sebagai istilah. Satu misal, untuk menyebut sesuatu yang sangat terkenal dan menjadi perbincangan banyak orang, dulu dikenal istilah “popiler” dan ada pula yang menyebut dengan “populer”  –ada perbedaan pi dan pu. Kemudian muncul istilah lain yang semaksud, yaitu heboh, buah bibir, dan sebagainya, hingga belakangan ini muncul lagi istilah viral —setelah musim penggunaan alat komunikasi yang disebut “hand phone pintar.”

Meskipun setiap kata yang menjadi istilah tersebut memiliki akar yang berbeda, namun secara umum dianggap memiliki maksud yang sama. Di sisi lain, akibat munculnya istilah yang baru, dengan sendirinya istilah yang lama semakin tidak digunakan, tergeser, hingga kemudian hilang dari peredaran.

Masih seputar dunia kata-kata, di masa-masa menjelang kemerdekaan Indonesia, terdapat istilah yang digunakan dalam rangkaian sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Istilah yang dimaksud adalah kata “Setem.” Sebagaimana umum diketahui, BPUPKI atau dalam bahasa Jepang disebut Dokuritzu Junbi Cosukai diumumkan berdirinya oleh Pemerintahan Militer Jepang pada 1 Maret 1945 dan pengangkatan pengurus serta anggotanya diumumkan pada 29 April 1945. Dalam sidang-sidang resmi BPUPKI, semisal saat pembentukan panitia sembilan disetujui dengan cara setem.

Menurut D. Yuni Yunarti dalam BPUPKI, PPKI, Proklamasi Kemerdekaan RI (2003), Setem adalah istilah untuk menyebut suatu cara dalam sidang-sidang untuk memperoleh keputusan dengan pemungutan suara. Yang mana, cara setem atau pemungutan suara ini yang biasa dilakukan dalam persidangan BPUPKI maupun PPKI. Istilah setem muncul pertama kali dari dr KRT Radjiman Wediodiningrat selaku ketua BPUPKI, pada tanggal 11 Juli 1945.

“Memang dalam persidangan BPUPKI cara setem banyak dilakukan karena suasana debat dan adu argumentasi sangat terasa. Sebaliknya, dalam persidangan PPKI cara setem hanya beberapa kali saja dilakukan. Cara itu menunjukkan betapa demokrasinya suasana persidangan juga pembicaraan bisa berjalan singkat, sesuai yang diharapkan oleh Ketua PPKI Soekarno, agar pembicaraan cekak aos, singkat, kilat,” demikian tulis Rini dalam buku karyanya tersebut.

Diungkapkan pula, saat itu Soekarno sering mengatakan dalam sidang-sidang tersebut agar anggota sidang tidak terjebak pada pembahasan yang bertele-tele.

“Janganlah kita terlalu tertarik oleh kehendak yang kecil-kecil, tetapi marilah kita menurut garis-garis besar saja yang mengandung sejarah.”

Maka, dengan cara setem sidang-sidang dapat berjalan praktis dan cepat mengerucut pada sasaran.

Begitu dikenalnya kata setem sebagai istilah pemungutan suara dalam sidang-sidang yang menentukan kemerdekaan Indonesia, saat ini istilah tersebut agaknya sudah jarang terdengar. Mungkin saja, generasi saat ini sama sekali tidak mengetahui istilah setem.

Editor : M.A.R & Anuro

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top