Kabar

PADASUKA Bangkalan Rayakan Tiga Ultah Sekaligus di Satu Acara

Padasuka.id – Bangkalan. Keberadaan dan perkembangan Padepokan Dakwah Sunan Kalijaga (PADASUKA) di daerah Bangkalan, Madura, Jawa Timur, sudah melewati masa 5 tahun. Padepokan yang identik dengan Majelis Munajat ini, untuk di wilayah Bangkalan dikoordinatori oleh Ust. Mohammad Nasir.

Selasa malam, 01 Sepetember 2020, bertempat di Jl Durian, Gg 2, No.45, Bancaran, Bangkalan, Majelis Munajat PADASUKA Bangkalan menggelar acara perayaan ulang tahunnya yang ke-5 yang sekaligus juga syukuran untuk 2 ulang tahun lainnya.

Dari kiri: Ust. Moh. Nasir (duduk), KH Imam Makhsus Ridhwan (saat ceramah), Agus Junaidi (pembawa acara)

“Selasa malam Rabu kami mengadakan acara perayaan hari lahir atau Harlah Majelis Munajat PADASUKA Bangkalan yang ke-5 yang dirangkai dengan peringatan tahun baru 1442 Hijriyah, HUT RI ke-75, dan Harlah Padepokan Dakwah Sunan Kalijaga atau PADASUKA yang ke-9 dengan mengundang penceramah, almukarram KH Imam Makhsus Ridhwan dan para sesepuh serta tokoh masyarakat setempat,” tutur Mohammad Nasir, lalu melanjutkan.

“Rangkaian acara diawali dengan pembacaan Kitab Munajat yang dipimpin oleh Ust. H Ahmad Faqih sebagai pembaca Surat Al Fatihah, Sdr Beny Mustofa sebagai pembaca Wirid Munajat, dan Sdr Agus Muharram sebagai pembaca do’a Munajat.”

Setelah pembacaan Kitab Munajat, acara dilanjutkan dengan sambutan oleh Ust. Mohammad Nasir selaku koordinator majelis. Dalam sambutannya, Bang Nasir, sapaan akrabnya, mengatakan bahwa Majelis Munajat PADASUKA Bangkalan dibentuk pada tanggal 23 Maret 2015 yang diprakarsai oleh ia sendiri, Ust. H Ahmad Faqih selaku penasehat, kemudian dibantu oleh Ust. M Munir dan Ust. Ahmad Ghufron, pada saat itu.  Dengan demikian, terhitung ke tahun ini (2020) genap berusia 5 tahun.

Jamaah saat membaca Kitab Munajat

Sementara itu, lanjut Bang Nasir, untuk Padepokan Dakwah Sunan Kalijaga atau PADASUKA sendiri, dinyatakan berdiri pada malam 1 Suro 1945 Jawa atau malam 1 Muharram 1433 Hijriyah (November 2011). Jadi, terhitung sampai saat ini sudah berusia 9 tahun. Kemudian, Bang Nasir juga menceritakan bahwa amaliah jamaah PADASUKA adalah Kitab Munajat yang berisi kumpulan wirid dan doa-doa Al-Qur’an yang disusun oleh KHR Syarif Rahmat RA, SQ, MA dan diterbitkan petama kali pada tahun 1995.

Setelah sambutan dari Bang Nasir acara dilanjutkan dengan ceramah agama oleh KH Imam Makhsus Ridhwan, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Aziziyah 3, Sebaneh, Bancaran, Bangkalan.

Dalam ceramahnya, Kiai Imam Makhsus mengurai sejarah dibuatnya Kalender Hijriyah yang digagas oleh Khalifah Umar bin Khatthab serta membahas tentang kemuliaan bulan Muharram yang merupakan bulan kesuksesan para Nabi dan Rasul terbebas dari belenggu penderitaan, yakni pada tanggal 10 Muharram. Seperti kisah Nabi Adam yang diterima taubatnya oleh Allah SWT, Nabi Musa yang selamat dari kejaran Fir’aun, Nabi Ibrahim yang selamat dari kobaran api Raja Namrudz, Nabi Nuh yang perahunya bersandar di daratan setelah peristiwa banjir bandang selama 40 hari 40 malam, dan lain-lain.

Pada bagian lain, Kiai Imam Makhsus juga menerangkan tentang hikmah kemerdekaan Republik Indonesia yang sudah dicapai selama 75 tahun yang patut untuk disyukuri. Bahwa menurutnya, pembangunan semakin tahun semakin maju, seperti gedung-gedung, fasilitas umum, jalan tol, dan lain sebagainya. Dari situ, tandasnya, kita bisa melihat bahwa Indonesia ini sudah bisa dibilang makmur, bahkan saking makmurnya ada orang bilang tongkat ditanam bisa menjadi tanaman.

Dari kiri: Ust. Moh. Nasir (duduk), Drs Ust. H Alif M Nur, MM, M.Si.(saat memimpin doa penutup), Agus Junaidi (pembawa acara)

“Janganlah kita melihat sisi negatifnya saja tapi lihatlah juga positifnya, karena setiap hal pasti ada sisi positif dan negatifnya,” tegas Kiai Imam Makhsus.

Namun pada hakikatnya, lanjutnya lagi, kita bisa disebut benar-benar merdeka jika kita bisa melawan 4 musuh di dalam kehidupan ini. Yaitu: dunia (harta), setan, hawa nafsu, dan lingkungan jelek. Karena, manusia masih belum bisa disebut merdeka jika masih menjadi budak dunia, mengikuti ajakan setan, menuruti hawa nafsu, dan masih terpengaruh dengan lingkungan yang jelek.

Pada bagian akhir ceramahnya, kiai yang sangat ramah ini juga berdo’a mudah-mudahan Majelis Munajat PADASUKA bisa menjadi media untuk kemajuan bangsa dan kemerdekaan kita bersama.

Kemudian, di akhir acara rangkaian Harlah ditutup dengan pembacaan do’a yang dipimpin oleh Ust. Drs H Alif M. Nur MM, MSi.

Editor : M.A.R & Anuro

1 Comment

1 Comment

  1. Avatar

    awang bachtiar

    3 September 2020 at 4:54 pm

    Semoga tetap Istikomah dalam Kebaikan

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top