Kabar

Trah Snouck Hurgronje Isi Kepemimpinan dalam Sejarah Peteng Cirebon

Padasuka.id – Cirebon. Dalam seminar virtual (webinar) yang digelar oleh Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, pada Sabtu, 15 Agustus 2020 (dimulai dari pukul 19.30 WIB) yang lalu, antara lain diungkap tentang dua sejarah peteng (gelap) yang menyelimuti Keraton Kasepuhan Cirebon. Materi tentang ini disampaikan oleh salah seorang pembicaranya, yaitu Dr Raffan S Hasyim, M.Hum, seorang filolog dan menjabat sebagai Dewan Pakar PC Lesbumi NU Kabupaten Cirebon.

Kang Opan, sapaan akrab Dr Raffan, dalam webinar bertajuk, “Geger Kesultanan Kasepuhan Cirebon; Perspektif Filologi, Sejarah, dan Politik Islam” itu memulai uraiannya sejak penjajah Belanda ikut campur urusan dalam keraton di Cirebon.

Tangkapan layar dari wbinar yang digelar ISNU terkait sejarah peteng Keraton Kasepuhan Cirebon

Dari persolan itulah kemudian muncul kritik hingga perlawanan dan berujung pada perang gerilya yang dilancarkan oleh pihak Sultan Sepuh V Keraton Kasepuhan Cirebon, Sultan Muhammad Shofiuddin Matangaji (Sultan Matangaji). Imbas dari perlawanan tersebut pada akhirnya menyebabkan Sultan Matangaji meninggal dunia karena dibunuh pada 1786 M. Pembunuhan itu terjadi setelah pihak Belanda melakukan tipu muslihat melalui paman Sultan Matangaji dari pihak ibu yang bernama Ki Mas Muda.

Sejak saat itu, Ki Mas Muda menggantikan posisi Sultan Sepuh V menjadi Sultan Kasepuhan dengan nama Sultan Sepuh Hasanuddin (Sultan Sepuh VI). Padahal, ia bukan keturunan (trah) dari sultan-sultan sebelumnya hingga ke Sunan Gunung Jati. Diungkapkan oleh Kang Opan, Ki Mas Muda adalah kakak dari salah satu istri (bukan permaisuri) Sultan Sepuh IV Tajul Asikin Amir Sena Zainuddin –yang menurunkan Sultan Matamgaji. Di mana, Ki Mas Muda berasal dari luar lingkungan trah Keraton Kasepuhan.

Setelah wafatnya Sultan Matangaji perjuangan melawan penjajahan Belanda diteruskan oleh adik seayahnya, dari pihak permaisuri, yaitu Pangeran Aria Panengah Abu Hayat Suryakusuma atau Pangeran Suryanegara. Meskipun sejatinya Pangeran Suryanegara adalah pewaris yang sah atas tahta keraton peninggalan leluhurnya, namun ia lebih memilih berjuang di luar keraton yang telah dikuasai oleh pihak luar tersebut.

Maka, terhitung sejak Sultan Sepuh VI, yakni Sultan Sepuh Hasanuddin alias Ki Mas Muda (bertahta dari 1786 – 1791 M) sampai saat ini, lanjut Kang Opan, yang menjadi sultan di Keraton Kasepuhan Cirebon bukan lagi dari trah Sunan Gunung Jati. Sejarah ini beratus tahun lamanya ditutupi hingga disebut sejarah peteng atau gelap. Namun, peristiwa ini adalah sejarah peteng pertama, karena pada era berikutnya tercatat lagi sejarah peteng yang kedua. Yakni, setelah era kepemimpinan Sultan Sepuh XI Pangeran Adipati Tajul Arifin Muhammad Syamsuddin. Di mana, yang menjadi pengganti Sultan Sepuh XI adalah Sultan Sepuh XII Alexander Radjaningrat (bertahta dari 1942 – 1969) dikatakan bukan dari trah Sultan Sepuh XI atau pun sultan-sultan sebelumnya hingga ke Sultan Sepuh VI. Melainkan, Sultan Alexander disebut-sebut sebagai trah dari seorang orientalis Belanda yang sangat terkenal dan pernah menjabat sebagai Penasehat Urusan Pribumi untuk Pemerintah Kolonial Hindia Belanda, Christiaan Snouck Hurgronje.

Lantas kenapa ‘trah Snouck Hurgronje’ kemudian bisa menjadi sultan di Kasepuhan Cirebon? Menurut Kang Opan, hal itu terjadi bermula dari Sultan Sepuh XI Pangeran Adipati Tajul Arifin Muhammad Syamsuddin tidak memiliki anak laki-laki.

Kang Opan (Foto: tangkapan layar dari webinar yang digelar oleh ISNU terkait sejarah peteng Keraton Kasepuhan Cirebon)

“Sultan Sepuh XI Pangeran Adipati Tajul Arifin Muhammad Syamsuddin atau Pangeran Raja Jamaluddin Aluda; beliau dari istri pertama itu, anak dari Bupati ke-17 di Galuh (tidak memiliki anak laki-laki). Beliau punya anak perempuan semua. Dan, dari anak kedua, ada satu laki-laki yang bernama Raden Sugiono, tapi beliau tidak mau naik tahta. Nah makanya ini, anak bungsu dari istri pertama yang bernama Ratu Hani, itu ditukar dengan cucunya Snouck Hurgronje, dengan Alexander… Ditukar ketika masih waktu bayi,” tutur Kang Opan lalu mengatakan bahwa keluarga dari Ratu Hani masih bisa ditelusuri untuk dimintai keterangan.

Diungkapkan pula, Snouck Hurgronje pernah menikah dengan gadis Sunda bernama Sangkana. Dari pernikahannya ini ia dikaruniai putera dan puteri, satu di antaranya bernama Siti Aminah (Inah). Inah kemudian menikah dengan seorang lelaki keturunan Tionghowa lalu dikaruniai anak laki-laki yang diberi nama Alexander. Ketika masih bayi, Alexander yang merupakan cucu dari Snouck Hurgronje tersebut ditukar dengan puteri bungsu Sultan Sepuh XI yang bernama Ratu Hani. Dengan demikian, Alexander merupakan anak angkat Sultan Sepuh XI dari hasil menukar dengan puteri bungsunya.

Adapun data yang disampaikan oleh Kang Opan, tuturnya, antara lain bersumber dari catatan saksi mata langsung, yaitu Pangeran Satriono. Kecuali itu, ia juga mendapat sumber dari Ratu Shofi Juhairiyah –keduanya adalah cucu dari Sultan Sepuh XI. Dalam dokumen yang dimiliki Pangeran Satriono, tegas Kang Opan, jelas tertulis bahwa Alexander merupakan anak pungut Sultan Sepuh XI.

Snouck Hurgronje dan Sangkana (Foto: tangkapan layar dari webinar yang digelar oleh ISNU terkait sejarah peteng Keraton Kasepuhan Cirebon)

Pada bagian berikutnya diungkapkan, Sultan Alexander lalu menikah dengan wanita keturunan Sumedang bernama Mintarsih. Dari pernikahannya ini kemudian menurunkan putera, Sultan Sepuh XIII Pangeran Raja Adipati Maulana Pakuningrat (bertahta dari 1969 – 2010). Sultan Sepuh XIII berputera Sultan Sepuh XIV Pangeran Raja Adipati (PRA) Arief Natadiningrat (bertahta dari 2010 – 2020). Dan, PRA Arief Natadiningrat berputera Pangeran Raja Adipati Luqman Zulkaedin –yang dinobatkan menjadi Sultan Sepuh XV pada Minggu, 30 Agustus 2020 yang lalu.

Terkait dengan jalur nasab yang menghiasi sejarah peteng Keraton Kasepuhan Cirebon, sampai berita ini diturunkan, belum.ada klarifikasi secara resmi dari pihak PRA Luqman Zulkaedin. Yang ada, pada saat pelantikannya (30/8/2020), Habib Prof. Dr KH R Shohibul Faroji Azmatkhan, atas nama Lembaga Peneliti dan Pentashih Nasab, Asyraf Azmatkhan Ahlulbait Internasional, telah menerbitkan dan menyerahkan buku paspor nasab untuk PRA Luqman. Yang mana, buku paspor nasab tersebut dipertanyakan keabsahannya oleh Kang Opan saat diwawancarai awak media.

Lantas, bagaimana kisah Snouck Hurgronje bisa menikahi gadis Sunda? Ikuti pada edisi mendatang.

Keterangan

Ilustrasi utama adalah saat pengukuhan Pangeran Raja Adipati Luqman Zulkaedin sebagai Sultan Sepuh XV Keraton Kasepuhan Cirebon

Editor : M.A.R & Anuro

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top