Kabar

Inilah Penelusuran Koeningsveld Tentang Pernikahan Snouck di Pasundan

Padasuka.id – Jakarta. Dalam edisi yang lalu diberitakan tentang, “Trah Snouck Hurgronje Isi Kepemimpinan dalam Sejarah Peteng Cirebon,” yang bersumber dari keterangan seorang filolog, Dr Raffan S Hasyim, M.Hum, dalam webinar yang digelar oleh Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Sabtu (15/8/2020). Dewan Pakar PC Lesbumi NU Kabupaten Cirebon tersebut mengatakan bahwa Keraton Kasepuhan Cirebon mengalami dua kali peristiwa yang disebut ‘sejarah peteng.’ Pertama, terjadi setelah terbunuhnya Sultan Sepuh V Muhammad Shofiuddin Matangaji pada tahun 1786 M. Kedua, terjadi setelah pemerintahan Sultan Sepuh XI Pangeran Adipati Tajul Arifin Muhammad Syamsuddin. Di mana, yang menjadi penggantinya, yakni Sultan Sepuh XII Alexander Radjaningrat (bertahta dari 1942–1969) bukanlah keturunannya, melainkan trah dari Christiaan Snouck Hurgronje.

Dok. Istimewa

Diungkapkan, saat bertugas di Indonesia Snouck Hurgronje pernah menikahi gadis Sunda bernama Sangkana dan dikaruniai putera-puteri, satu di antaranya bernama Siti Aminah (Inah). Inah kemudian menikah dengan seorang lelaki keturunan Tionghowa lalu dikaruniai anak bernama Alexander. Ketika masih bayi, Alexander ditukar dengan putri bungsu Sultan Sepuh XI yang bernama Ratu Hani. Dari sinilah, Alexander yang diangkat anak dengan cara menukar itu kemudian naik tahta menjadi Sultan Sepuh XII yang kelak menurunkan putera menjadi Sultan Sepuh XIII dan seterusnya.

Lantas bagaimana kisahnya hingga Snouck Hurgronje dapat menikahi Sangkana? Berikut ini ringkasan cerita penelusuran keluarga Snouck Hurgronje oleh Dr. P. Sj. Van Koeningsveld dalam sebuah artikel berjudul “Perkawinan, Status, dan Politik Kolonial di Hindia Belanda” yang dimuat dalam Snouck Hurgronje dan Islam (Girimukti Pasaka, Bandung: 1989).

Dikisahkan, pada 1889 M, Snouck Hurgronje tiba di Hindia Belanda (Indonesia). Saat itu ia bertugas sebagai penasehat resmi Pemerintah Belanda untuk urusan kolonial. Dalam mengemban tugas itu ia dibantu oleh sejumlah informan (pembantu) dari tokoh agama pribumi dan keturunan Arab –dua di antaranya: Sayyid Utsman bin Yahya (Jakarta) dan Haji Hasan Mustapa. Untuk yang disebut kedua, adalah seorang cedekiawan dan pujangga asal Garut, Jawa Barat. Saat berada di Mekkah ia menjadi bagian dari komunitas Jawi di Tanah Suci yang juga menjadi objek penelitian Snouck Hurgronje.

Memang, pertemuan Snouck Hurgronje dengan Haji Hasan pertama kali terjadi di Mekkah pada tahun 1885. Sejak saat itu, mereka menjalin komunikasi secara intensif. Ia pun kemudian melakukan kontak dengan Snouck Hurgronje saat profesor asal Leiden ini tiba di Hindia Belanda.

Haji Hasan Mustapa (Repro dari buku: “Snouck Hurgronje dan Islam”)

Van Koningsveld dalam “Conversion of European Intellectuals to Islam; The Case of Christiaan Snouck Hurgronje alias Abd al-Ghaffar”, menyebutkan bahwa H Hasan berperan besar dalam pernikahan Snouck Hurgronje dengan gadis Sunda bernama Sangkana di Ciamis pada 1890. Dari Sangkana, Snouck Hurgronje mendapatkan empat orang anak, yakni Salmah Emah, Umar, Aminah, dan Ibrahim. Setelah Sangkana wafat karena keguguran pada 1896, Snouck Hurgronje menikah lagi dengan Siti Sadijah, putri R.H. Muhamad Su’eb, wakil penghulu Bandung, pada 1898. Dari Sadijah, ia mendapatkan putera bernama Raden  Joesoef.

Dalam menelusuri keluarga Snouck Hurgronje, saat di Amsterdam, Belanda, Van Koeningsveld bertemu dengan seseorang bernama Harry Jusuf. Harry adalah putera Raden Joesoef (Jusuf) yang ternyata adalah anak laki-laki Snouck Hurgronje dari Siti Sadijah putri R.H. Muhamad Su’eb –seperti telah disitir di atas.

Kemudian, Van Koeningsveld berhasil menemui Raden Jusuf di Bandung. Saat itu, Raden Jusuf yang dilahirkan pada 1905, usianya sudah 78 tahun berstatus pensiunan Komisaris Besar Polri (setingkat kolonel). Van Koeningsveld juga mendapat silsilah keluarga Raden Jusuf yang disusun oleh Raden Tachiah, yaitu kepala keluarga Raden Jusuf dari pihak ibunya dan pensiunan Kepala Polisi Jawa Barat. Saat itu, Raden Jusuf menceritakan bahwa apa yang pernah diberitakan oleh Soerabaja Courant tahun 1890 tentang perkawinan ayahnya dengan gadis Ciamis itu benar adamya.

Disampaikan oleh Raden Jusuf, ayahnya, Snouck Hurgronje, memang menikah dengan Sangkana, puteri Penghulu Besar Ciamis, Raden Haji Muhammad Ta’ib. Snouck bertemu dengan Sangkana di Pendopo Kabupaten Ciamis. Di bawah tekanan istri Bupati Ciamis, Lasmitakusuma, terjadilah perkawinan Snouck dengan satu-satunya anak perempuan Muhammad Ta’ib itu. Dari hasil perkawinan tersebut mereka dikaruniai empat orang anak sebagaimana telah diungkap di atas.

Terkait pernikahan Snouck Hurgronje  dengan puteri Penghulu Besar Ciamis itu sempat menghebohkan setelah diberitakan oleh Soerabaja Courant, bertanggal 9 dan 13 Januari 1890. Menurut koran ini, perkawinan itu dilangsungkan di Mesjid Ciamis.

Dalam berita koran itu juga disebutkan bahwa Menteri Urusan Jajahan, Keuchenius, meminta penjelasan resmi tentang kebenaran berita tersebut. Gubernur Jendral menyangkalnya dengan mengatakan bahwa memang ada peristiwa perkawinan, tetapi itu hanya rekayasa saja untuk keperluan studi Snouck tentang upacara perkawinan Islam. Tidak terkecuali, Snouck sendiri turut menyangkal berita koran tersebut dengan mengatakan bahwa “orang-orang koran” itu tidak memiliki keinsyafan batin. Agaknya, sebagai pejabat Belanda, Snouck ingin merahasiakan status perkawinannya dengan wanita pribumi.

Dalam artikel yang sama dikisahkan, Raden Jusuf membenarkan bahwa ayahnya memang merahasiakan hubungan-hubungan kekeluargaannya di Hindia Belanda. Menurutnya, sang ibu, Sadijah mengatakan menjelang kepulangannya ke Belanda pada tahun 1906, Snouck secara tegas melarang anak-anaknya menggunakan nama Snouck Hurgronje. Karena itu bila ditanya tentang siapa ayahnya, maka Raden Jusuf hanya akan mengatakan bahwa ia cucu Muhammad Su’eb. Selulus dari sekolah HBS, Raden Jusuf juga dilarang pergi ke Belanda untuk melanjutkan sekolah kedokteran walaupun sebenarnya ia sudah resmi diterima sebagai mahasiswa di sana. Ibrahim, saudara seayahnya –dari istri pertama Snock, Sangkana– juga mengalami hal yang sama.

Meskipun begitu, ungkap Raden Jusuf, ibunya sangat mencintai Snouck Hurgronje dan menilai sang suami sebagai seorang muslim yang alim, taat beribadah, serta menjalankan puasa. Bahkan, ibunya tidak pernah ingin bercerai dari Snouck walaupun sepeninggal Snouck tahun 1906, ia mendapat banyak pinangan. Sadijah setia hingga wafatnya pada tahun 1974.

Haji Hasan Mustapa (Repro dari buku: “Snouck Hurgronje dan Islam”)

Menurut anak-anak Raden Jusuf, nenek Sadijah yang mereka panggil dengan nama Buah, sangat lekat dengan surat-surat yang ditulis dan dikirimkan Snouck dari Belanda hingga wafatnya tahun 1936. Surat-surat itu selalu ditujukan “Kepada Putri Sundaku yang Tercinta…” Sayang, menurut Raden Jusuf surat-surat itu hilang setelah masa Perang Dunia II.

Masih menurut Raden Jusuf, menjelang kepulangannya ke Belanda, Snouck Hurgronje telah mengatur seluruh pembiayaan istri dan anak-anaknya melalui pembayaran bunga seumur hidup. Baginya Snouck telah berusaha menghindari berbagai kemungkinan penilaian buruk terhadapnya berkaitan dengan keluarga Sundanya.

Demikian sekilas kisah tentang pernikahan seorang orientalis ulung Belanda dengan dua wanita ningrat di tanah Pasundan. Seorang putera dari istri keduanya, Raden Jusuf, menjadi polisi berpangkat komisaris besar. Sedangkan satu jalur cucu-cucu dari istri pertamanya, Sangkana, dalam telaah Dr Raffan, menjadi sultan di Keraton Kasepuhan Cirebon –sampai saat ini.

Editor : M.A.R & Anuro

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top