Kabar

Di Tanggal Ini, 1 Tahun Lalu Pertama Kali Munajat Bergema di Wilayah Ini

Padasuka.id – Wonogiri. Pada tanggal dan bulan ini satu tahun lalu, ratusan orang duduk bersimpuh di dalam ruangan masjid hingga ke halamannya. Lamat-lamat kalam suci berkumandang memenuhi semua sudut ruang lalu menyibak cakrawala; membahana di sana. Remang malam yang ditingkahi terang neon menjadi saksi satu peristiwa sakral di malam Ahad Pon; di sebuah perkampungan belahan selatan tanah Jawa bagian tengah. Mereka adalah penduduk negeri ini yang menempati salah satu petak karst perbukitan kapur di gugusan Gunung Sewu yang menjadi bagian dari dampak musibah tahunan akibat kekeringan yang selalu setia menimpa.

Di balik balutan duka berkarat, pada tanggal dan bulan ini, satu tahun lalu, untuk pertama kali secara berjamaah mereka melafalkan kalimat-kalimat wirid dan doa-doa Al-Qur’an yang terangkum dalam “Kitab Munajat.”

Suasana pembukaan Majelis Munajat di Masjid Baiturrahman Karanding, Paranggupito (14 September 2019 malam)

Ya, tanggal dan bulan satu tahu lalu yang dimaksud adalah: 14 September 2019 atau bertepatan dengan malam Ahad Pon, 15 Suro 1953 Jw (15 Muharram 1441 H). Pada malam itu sejumlah warga Kecamatan Paranggupito menggelar acara pembukaan Majelis Munajat di Masjid Baiturrahman, Dusun Kranding, Desa dan Kecamatan Paranggupito, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.

Acara yang pertama kali digelar, satu tahun lalu tersebut, adalah salah satu upaya jangka panjang yang diagendakan ketika Padepokan Dakwah Sunan Kalijaga (PADASUKA) membentuk Tim Tanggap Darurat PADASUKA (TDP) untuk musibah kekeringan yang menimpa delapan desa di Kecamatan Paranggupito –pada saat itu.

Sebelumnya, Ketua PADASUKA Jawa Tengah Kiai Mohammad Wiyanto (Gus Yayan) ditugaskan oleh Ketua Umum PADASUKA KHR Syarif Rahmat RA, untuk turun ke Paranggupito ketika mendapat informasi musibah kekeringan yang melanda di sana. Dan, Gus Yayan pun segera melakukan pengumpulan data di lapangan. Ketika data sudah didapat lalu dilakukan tindakan yang bersifat tanggap darurat, yaitu menyalurkan bantuan sesuai dengan apa yang paling dibutuhkan oleh masyarakat di sana: suplai air bersih dan bantuan bahan pokok pangan.

Jamaah membludak hingga ke halaman masjid saat pembukaan Majelis Munajat di Masjid Baiturrahman Karanding, Paranggupito (14 September 2019 malam)

Adapun program jangka panjang, tutur Gus Yayan kepada Padasuka.id saat itu, antara lain adalah mencari potensi air sungai bawah tanah untuk diangkat ke permukaan (dieksplorasi) dan mengajak masyarakat agar lebih medekatkan diri kepada Sang Pencipta. Sebab, apapun yang menimpa suatu kaum tidak lepas atas kehendak-Nya jua. Maka, program pembentukan Majelis Munajat tersebut menjadi perhatian yang tidak dapat dipisahkan di balik penyaluran bantuan berupa materi yang terus diupayakan pada saat itu, serta upaya eksplorasi air sungai bawah tanah.

“Guna antisipasi jangka panjang keadaan yang sama, atas arahan dari Ketua Umum PADASUKA, KHR Syarif Rahmat RA, maka akan diadakan Majelis Munajat yang dilaksanakan secara rutin selapanan dengan tujuan bimbingan ruhaniyah untuk masyarakat dan menata gerak bersama untuk antisipasi keadaan yang sama di masa yang akan datang,” demikian ungkap Gus Yayan, Senin (26/8/2019) satu tahun yang lalu, setelah ia dan timnya mempelajari persoalan yang terjadi di lapangan.

Dari program yang telah dicanangkan itu, setelah melakukan koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk dengan tokoh masyarakat setempat, untuk langkah awal akan digelar pembacaan Kitab Munajat secara rutin setiap malam Ahad Pon, atau dalam istilah Jawa disebut selapanan. Kemudian, sesuai dengan kesepakatan bersama, pada malam itu, 14 September 2019 (malam Ahad Pon, 15 Suro 1953 Jw) diimulailah acara pembukaan Majelis Munajat seperti telah diungkap di atas. Yang mana, acara tersebut didukung pula oleh sejumlah jamaah dan penggerak Majelis Munajat PADASUKA Solo Raya, Jawa Tengah.

Sementara itu, masih terkait dengan program jangka panjang Tim TDP, yaitu mencari potensi air sungai bawah tanah, pada waktu yang bersamaan (September 2019), di sebuah lembah di Dusun Ngejring, Desa Gendayakan, Kecamatan Paranggupito, tim dari Gapadri Mapala Institut Teknologi Nasional Yogyakarta (ITNY) tengah bekerja keras melakukan survei ulang. Para ahli dari ITNY pada saat itu, untuk kali kedua, kembali masuk menyusuri lorong luweng (goa vertikal) yang disebut Goa Jomblang Ngejring untuk mengambil sampel air yang akan diteliti secara laboratoris.

Sejumlah tim dari Gapadri Mapala ITNY di sisi Goa Jomblang Ngejring sesaat akan mengambil contoh air untuk diuji ke laboratorium

Singkat cerita, kerja keras pengangkatan air sungai bawah tanah di Goa Jomblang Ngejring itu pun kemudian berhasil cukup sempurna dan diresmikan pemakaiannya serta diserahkan kepada warga setempat melalui kepala desanya pada Desember 2019 yang lalu. Hingga saat ini (sejak Agustus 2020) dilakukan pengerjaan tahap dua sebagai upaya penyempurnaan meliputi: pengamanan instalasi, sosialisi, edukasi, dan pendampingan terhadap masyarakat. Yang mana, pekerjaan kemanusiaan di Goa Jomblang Ngejring tersebut didukung oleh warga setempat serta diduking pula oleh pihak Djarum Foundation.

Sedangkan untuk pembacaan Kitab Munajat berjaaah di Masjid Baiturrahman, Dusun Kranding, Desa dan Kecamatan Paranggupito secara rutin dilaksanakan setiap malam Ahad Pon sejak petama kali dibuka pada tahun lalu. Hanya saja, karena adanya pembatasan sosial sejak merebaknya Covid-19, untuk sementara kegiatan majelis ini diliburkan dan pembacaan Kitab Munajat tetap dilakukan secara perorangan atau dalam sekala keluarga di rumah jamaah masing-masing.

Selamat ulang tahun yang pertama untuk Majelis Munajat Masjid Baiturrahman, Kranding, Paranggupito, Wonogiri, Jawa Tengah —dalam hitungan kalender Masehi  (14 September 2019 — 14 September 2020). Semoga senantiasa istikomah dan barakah selalu. Amin.

Editor : M.A.R & Anuro

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top