Anekdot

Bahtsul Masail Virtual: Haram Kirim Gambar Makanan di WAG

Mewabahnya alat komunikasi modern yang disebut “hand phone pintar” ternyata melebihi wabah penyakit global yang oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) dinamai Corona Virus Disease -2019 atau disingkat Covid-19. Mungkin karena hand phone-nya yang pintar, maka banyak pemakainya yang kalah pintar. Tapi, ini hanya mungkin loh ya?

Di sisi lain, mewabahnya alat komunikasi yang juga kerap dijuluki “setan gepeng” ini, tanpa disadari telah banyak menggeser tradisi lama yang baik atau dalam istilah anak pesantrenan disebut “qadimus shalih.” Salah satu contoh, jika pada masa lalu dalam forum-forum tertentu, apalagi forum resmi, orang cenderung konsentrasi pada bahasan materi, saat ini lebih sibuk selfie yang kemudian gambarnya dikirim ke sana-sani. Dalam skala yang paling umum, jika dulu orang bertamu akan fokus pada tuan rumah, saat ini, antara tuan rumah dengan si tamu terkadang malah sibuk sendiri-sendiri dengan alat komunikasi.

Dari sejumlah aplikasi yang melekat pada hand phone yang katanya pintar itu, yang paling banyak peminatnya adalah aplikasi percakapan WhatsApp alias WA. Karenanya, kemudian bertebaran WhatsApp Group (WAG) dengan beragam nama yang megesankan sebagai tujuan dari grup percakapan virtual itu dibuat. Walapun realitasnya, tidak sedikit isi dari WAG tersebut tidak sesuai namanya.

Tangkapan layar salah satu contoh ukuran foto yang dikirim ke WAG

Nah, berkenaan dengan WAG, juga tidak kalah banyaknya nilai-nilai tradisi yang digilas atau pun norma-norma agama yang diterabas. Contoh yang mungkin paling kecil tapi paling sering terjadi adalah perekrutan anggota grup. Tidak jarang, tanpa ada konfirmasi sebelumnya, tahu-tahu seseorang dimasukkan ke dalam grup buatannya. Sebaliknya, karena satu hal yang mungkin ddianggap kurang pas menurut madzhabnya sang pembuat atau sang pengendali dan atau admin grup, juga tanpa komfirmasi, tahu-tahu seorang anggota grup yang dimasukkan tanpa pamit itu dikeluarkan begitu saja.

Masih seputar persoalan WAG, dua sahabat yang gara-gara Covid-19 kini tinggal berjauhan, menjalin diskusi yang mereka sebuat “Bahtsul Masail Virtual.” Mereka adalah Mattasim dan Mattamir.

“Kenapa sampean pakai istilah Bahtsul Masail Virtual, Cak? Kan sama aja artinya dengan membahas berbagai masalah?” Tanya Mattamir melalui video call di aplilasi WA-nya.

“Ya, sekali-kali kita agak ngarab lah, Mas. Biar terkesan islami…,” jawab Mattasim yang langsung dipotog oleh Mattamir.

“Tapi, itu kok pakai kata virtual juga, Cak?”

“Ya, biar terkesan intelek, Mas. Biasanya, kalau berbau-bau Arab, itu dianggap islami. Kalau pakai istilah hasil ngimpor dari Inggris, umumnya dianggap intelek alias cerdik pandai. Padahal maksudnya ya pada bae,” jawab Mattasim yang disambut tawa berdua.

Setelah membahas beragam masalah, sampailah mereka pada bahasan tentang mengirim gambar makanan di WAG.

“Menurut saya harus dilihat dulu, tujuan grup itu dibuat untuk apa? Kalau memang grup warung makan atau tata boga, sah-sah saja. Tapi kalau di luar itu, misalkan cuma iseng kirim gambar makanan, apalagi video makanan, maka bisa haram,” jawab Mattasim yang langsung dipotong oleh Mattamir.

“Kok bisa haram Cak? Kan bisa saja yang kirim gambar makanan itu untuk membagi kabar kenikmatan Tuhan…”

“Loh, kan tadi saya bilang, kalau itu dilakukan karena iseng. Kalau ndak jelas tujuannya, apalagi ndak ada keterangan yang menyertai, tiba-tiba kirim gambar… Perlunya apa, tujuannya apa, manfaatnya apa, ndak jelas kan?” Jawab Mattasim.

“Alasan sampean apa Cak, kok bisa haram?” Kejar Mattamir.

“Anggota grup WA itu bisa saja ada yang sedang lapar tapi ndak cukup duit untuk beli makanan, apalagi jenis makanan seperti gambar yang dikirim itu. Kan ngenes; nelongso Mas… Membuat orang lain nelongso dan hatinya jadi ndak nyaman, kata kiai saya di kampung, itu ndak boleh alias haram dalam bahasa Arabnya.”

Itu alasan subyektif, Cak. Ada nggak alasan yang obyektif yang sekiranya dapat dijadikan acuan sebagai dasar hukum?” Tanya Mattamir serius.

“Itu masuk dua kategori yang ndak boleh dilakukan dalam Islam. Pertama, itu masuk perbuatan yang menjurus pada pemborosan. Kedua, hal itu bisa menjerumuskan kita pada perbutan sia-sia,” jawab Mattasim yang membuat Mattamir semakin penasaran.

“Tumben sampean jadi cerdas begitu, Cak? Bisa dijelaskan apa alasan rincinya sehingga kirim gambar makanan bisa masuk kategori pemborosan dan perbuatan sia-sia sehingga sampean simpulkan bahwa itu haram,” ujar Mattamir menelisik.

“Sampean kok ketinggalan sepur, Mas. Kata Mas Agoeng, satu gambar foto itu bisa makan 100 KB, bahkan bisa lebih. Sedangkan satu gambar video, itu bisa berukuran 10 MB bahkan ke atas –tergantung durasinya. Nah, jika berulang-ulang dikirim, dalam satu hari saja, bisa-bisa sampai 1 GB, 2 GB, dan seterusnya. Apa itu bukan pemborosan? Ya boros kuota, boros pula pada ruang HP-nya. Sedangkan, pemborosan itu dilarang oleh agama. Karena gambar-gambar itu hanya kiriman iseng yang ndak ada manfaatnya alias Laa Yanfa’ kata Ustadz Hakim, maka itu termasuk perbuatan sia-sia. Bukankah kita dianjurkan untuk meninggalkan perbuatan sia-sia, Mas?”

Kali ini Mattamir agak terkesima mendengar jawaban Mattasim. Saat sahabatnya terdiam, Mattasim lalu mengutip Hadits Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan Ibnu Majah:

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ

Artinya: “Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.”

“Nah, jika kebaikan Islamnya seseorang itu di antaranya adalah meninggalkan hal-hal yang ndak manfaat, maka dengan melakukannya berarti sama saja dengan meninggalkan kebaikan….,” terang Mattasim yang kemudian dipotong oleh Mattamir.

Tangkapan layar salah satu contoh ukuran video yang dikirim ke WAG

“Kalau itu alasannya, berarti bukan hanya gambar makanan saja Cak. Gambar apa pun yang tidak sesuai dengan tujuan grup dan tidak ada manfaatnya, ya tidak boleh….”

“Ya begitu! Gambar makanan itu kan contoh yang sampean ajukan dalam pertanyaan tadi, Mas,” jawab Mattasim.

“Nah, kalau tadi sampean katakan kirim gambar-gambar seperti itu hukumnya haram, berarti yang melakukannya berdosa dan nanti kalau meninggal dunia, akan disiksa di akhirat, gitu ya Cak?” Selidik Mattamir lagi.

“Wah, kalau soal itu bukan urusan saya Mas. Saya bukan panitia akhirat,” jawab Mattasim yang disambut tawa oleh Mattamir kemudian mengulangi pertanyaan yang serupa.

“Tadi Cak Mat bilang haram. Setahu saya, orang yang melakukan perbuatan haram itu berdosa yang kelak ada konsekwensinya di akhirat…”

“Kan tadi sudah saya bilang, saya bukan bagian dari panatia akhirat. Dan, haram yang saya maksud dalam bahasan ini, seperti telah saya katakan di awal tadi, adalah haram dalam bahasa Arabnya. Bukan haram dalam tinjauan fikihnya,” jawab Mattasim yang disambut tawa mereka berdua.

Setelah sama-sama tertawa mendadak Mattamir terdiam. Ia tertunduk seraya bergumam dalam hati, “Benar juga kata Cak Mat. Selama ini saya banyak buang waktu postang-pisting yang nggak penting. Terima dan kirim gambar karena iseng-iseng. Berapa kuota yang terbuang percuma; berapa waktu yang terpakai sia-sia. Padahal, dalam Al-Quran Surat Al-Mu’minun jelas-jelas difirmankan bahwa di antara kriteria orang-orang beriman itu, ‘Walladziinahum ‘anil laghwi mu’ridhuun: dan orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna.’ Ya Tuhan ampunilah hamba yang tanpa terasa telah menumpuk dosa dengan perbuatan sia-sia…

Saat Mattamir tertunduk, Mattasim tiba-tiba nyeletuk.

“Mas… Mas Amir, kenapa nunduk begitu? Apa teringat pada pulsa saya yang belum sampean isi dan belum pernah pula dijanjikan itu ya…?”

“Oh, iya ya…?!” Sahut Mattamir yang kembali disambut gelak tawa bersama.

Editor : M.A.R & Anuro

3 Comments

3 Comments

  1. Avatar

    awang bachtiar

    16 September 2020 at 7:18 pm

    mantap

  2. Avatar

    Muhammad Nasir

    16 September 2020 at 10:14 pm

    Saya sangat sependapat dg Mattasim. Sekarang kebanyakan orang suka posting makanan dll hanya untuk pamer saja.

  3. Avatar

    Amir maulana

    17 September 2020 at 6:00 am

    Mattamir menyimpulkan yg penting niatnya ‘si pengirim’ postingannya…klo urusan dosa mattamir dan mattasim sepakat kalo mereka bukan panitia akherat…heheh

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top