Kabar

Bukan Hanya Cancut Tali Wondo, Inilah Juga Jasa Besar Kiai Wahab

Padasuka.id – Jakarta. Setelah Proklamasi Kemerdekaan, 17 Agustus 1945, Indonesia mengakui seluruh wilayah Hindia Belanda, yakni bekas jajahan Belanda di Nusantara adalah bagian wilayah Indonesia, termasuk wilayah barat Pulau Papua, atau Irian Barat. Sementara Kerajaan Belanda menganggap wilayah itu masih menjadi salah satu provinsi kerajaannya. Belanda pun memulai persiapan untuk menjadikan Papua sebagai negara merdeka selambat-lambatnya, pada 1970-an. Atas pengakuan dan rencana itu, pemerintah Indonesia menentang keras. Sebab menurut Presiden Soekarno (Bung Karno), sesuai penyelidikan sejarah, Irian Barat selalu menjadi bagian dari Kerajaan Nusantara, seperti Kerajaan Islam Ternate dan Tidore. Bahkan sebelumnya, menurut Bung Karno, telah menjadi bagian dari Kerajaan Mataram dan Majapahit. Atas arogansi Belanda, akhirnya Papua menjadi daerah yang diperebutkan antara Indonesia dengan Belanda. Hal ini kemudian menjadi pembicaraan di berbagai forum internasional, termasuk dalam Konferensi Meja Bundar 1949.

Dari sinilah Bung Karno lalu membentuk Operasi Trikora (Tri Komando Rakyat) untuk menggabungkan wilayah Papua bagian barat ke Indonesia. Pada 19 Desember 1961, di Alun-alun Utara Yogyakarta, Bung Karno mengumumkan pelaksanaan Trikora. Hal ini disambut baik oleh sebagian besar rakyat Indonesia, walau sebagian yang lain, termasuk para para tokoh malah menentangnya. Hingga kemudian, Bung Karno menerima masukan dari KH Abdul Wahab Chasbullah sebagai solusinya.

Abdul Mun’im DZ, dalam “KH Abdul Wahab Chasbullah: Kaidah Berpolitik dan Bernegara” (2014) menulis, ketika program Trikora dikumandangkan dukungan terhadap upaya pengembalian Irian Barat (Papua) semakin meluas, termasuk dari Nahdlatul Ulama (NU), bahkan dengan kesiapan untuk menurunkan tenaga sukarelawan.

Namun begitu, seperti telah disitir di atas, di tengah semangat yang menyala-nyala itu, terdapat beberapa tokoh yang menampakkan pesimisnya untuk pengembalian Irian Barat. Malahan cenderung menentangnya. Di antaranya datang dari tokoh nasional, terutama dari kalangan Masyumi dan PSI yang menganggap Indonesia tidak memiliki kekuatan militer yang bisa menandingi kekuatan Belanda dan lain sebagainya.

Bung Karno bersama KH Abdul Wahab Chasbullah (kanan)

Pada saat yang sama, para diplomat Barat dan sejumlah menteri Amerika Serikat, menuduh bahwa usaha pengembalian Irian Barat hanya nafsu pribadi Bung Karno. Pernyataan tersebut dikutip oleh banyak media massa sehingga melemahkan semangat pembebasan Irian Barat. Oleh karena itu, Amerika juga tidak mau memberikan bantuan senjata kepada Indonesia.

Di tengah polemik tersebut, Kiai Wahab menegaskan bahwa pengembalian Irian Barat bukan nafsu pribadi Bung Karno. Tetapi pada dasarnya merupakan tugas sejarah yang wajib dijalankan bangsa Indonesia.

Kiai Wahab yang merupakan inisiator berdirinya NU tersebut lalu memberikan masukan kepada Bung Karno berupa 9 poin strategi politik yang harus dilakukan dengan langkah nyata yang dikenal dengan istilah “Diplomasi Cancut Tali Wondo.” Ringkasnya, meskipun kemudian sampai terjadi kontak senjata dengan militer Belanda, namun berakhir dengan kemenangan Indonesia. Hingga saat ini wilayah tersebut masih kokoh menjadi wilayah NKRI. Yang mana, satu di antaranya tidak lepas dari strategi politik masukan Kiai Wahab melalui Diplomasi Cancut Tali Wondo —lebih lengkapnya dapat dibaca di Padasuka.id edisi 26 Agustus 2019.

Berbicara semangat patriotisme dan nasionalisme, jauh sebelumnya, Ketika Abdul Wahab Chasbullah masih usia muda telah menorehkan tinta emas perjuangan untuk membangkitkan semangat patriotik dan cinta tanah air lewat dunia pendidikan. Wahab muda yang saat menempuh pendidikan di Tanah Suci juga aktif di Sarekat Islam cabang Mekkah, ketika kembali ke tanah air, bersama sahabatnya, Kiai Mas Mansur, pada kurun waktu tahun 1915 mendirikan Madrasah Nahdlatul Wathan di Surabaya, Jawa Timur. Madarasah ini mendapat dukungan dari para kiai serta dari tokoh nasional saat itu, H.O.S. Tjokroaminoto.

Sesuai namanya, “Nahdlatul Wathan” (Kebangkitan Tanah Air), madrasah ini bukan sekedar mengajarkan berbagai disiplin ilmu, melainkan juga untuk membangun semangat nasionalisme anak-anak bangsa pada saat itu yang tertekan di bawah penjajahan bangsa asing. Ketika pada 1922 Kiai Mas Mansur keluar dari madrasah ini dan bergabung dengan Muhammadiyah, posisinya digantikan oleh Kiai Mas Alwi Abdul Aziz. Di masa ini, madrasah yang bermuatan semangat “Hubbul Wathan Minal Iman” tersebut semakin berkembang dan berdiri sejumlah cabangnya hingga ke Semarang, Jawa Tengah.

Sukses dengan Madrasah Nahdlatul Wathan, Kiai Wahab lalu membangun semangat intelektual anak bangsa dengan membentuk kelompok diskusi “Taswirul Afkar” yang kemudian juga dibangun Madrasah Taswirul Afkar. Selanjutnya, pada kurun waktu tahun 1925 bersama para pemuda, di antaranya Abdullah Ubaid, Kiai Wahab membentuk kelompok pemuda yang diberi nama “Syubbanul Wathan.” Tidak berhenti sampai di situ, pada 1926, bersama KH Muhammad Hasyim Asy’ari dan pululuhan ulama lainnya mendirikan “Nahdlatul Ulama” yang bermula dari suatu kepantiaan yang disebut “Komite Hijaz.”

Sejumlah nama perwadahan tersebut di atas, yakni Nahdlatul Wathan, Syubbanul Wathan, dan Nahdlatul Ulama, walau pendiriannya dilatarbelakangi oleh tokoh yang sama, namun sejatinya memiliki fungsi dan latar belakang peristiwa yang berbeda. Hanya saja, belakangan ini di media sosial beredar video ceramah yang menyebutkan bahwa ketiga nama itu sebagai satu kesatuan. Sederhananya, penceramah dalam video itu menyebutkan bahwa berdirinya Nahdlatul Ulama bermula dari Nahdlatul Wathan lalu menjadi Syubbanul Wathan kemudian menjadi Nahdlatul Ulama. Tentu saja uraian penceramah tersebut telah mengaburkan sejarah ketiga nama perwadahan yang memiliki peran besar bagi perjuangan bangsa ini.

Penulis Swedia, Juri Lina, dalam “Architects of Deception- the Concealed History of Freemasonry” (2004) mengatakan ada tiga cara untuk melemahkan dan menjajah suatu negeri :

1.Kaburkan sejarahnya

2.Hancurkan bukti-bukti sejarahnya agar tidak bisa dibuktikan kebenarannya

3.Putuskan hubungan mereka dengan leluhurnya, katakan bahwa leluhurnya itu bodoh dan primitif

Untuk lebih jelasnya terkait pengaburan sejarah sebagaimana diurai dalam artikel di atas, simak video di bawah ini.

Editor : M.A.R & Anuro

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top