Kolom

Kemuliaan Seseorang Bukan Karena Nasabnya

Oleh Buya Em Es

BILAL adalah salah seorang shahabat Rasulullah Muhammad SAW mantan budak Abu Sufyan yang kemudian ditebus oleh Abu Bakar As-Shidiq. Walaupun Bilal sudah tidak menjadi budak dan sudah menjadi manusia merdeka, sering kali ia dihina dan dilecehkan oleh tokoh-okoh Arab yang sombong dan bangga dengan kemulian nasabnya. Saat itu semua shahabat yang berhati bersih faham tentang siapa Bilal tapi mereka menghormatinya.  Karena para shahabat adalah orang orang yang beriman dengan Al-Qur’an dan mereka meyakini dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dan, mereka menghormati Bilal karena mereka mengimani pernyataan Allah “Inna Akramakum Indallahi Atqakum” bahwa “Manusia yang paling mulia di hadapan Allah adalah manusia yang bertaqwa”.

Bangsa Arab saat itu karena mereka masih jahiliyyah masih banyak yang berpandangan bahwa kemuliaan itu karena nasab. Atas dasar itu Rasulullah Saw telah menyatakan: “Kamu semua berasal dari Adam dan Adam berasal dari tanah. Karena itu tidak ada keutamaan dan kemuliaan bagi bangsa Arab atau yang bukan Arab dan tidak ada keutamaan dan kemuliaan bagi bangsa yang berkulit putih atau berkulit hitam, melainkan keutamaan dan kemuliaan itu diperoleh dengan taqwa dan amal ahaleh”.

Pernyataan Allah dan Rasul dibuktikan oleh para shahabat, salah satunya adalah Bilal bin Rabah. Bilal tidak berasal dan lahir dari nasab yang mulia dan tidak ada umat saat itu yang memperdagangkan NASAB BILAL agar punya banyak pengikut; Bilal bukan dzuriyah Rasul yang patut untuk diagungkan dan dalam tubuh Bilal tidak ada darah Rasul yang mengalir agar Bilal tetap selalu dipuji. Tapi karena taqwa dan amal shalehnya Bilal mendapat kemulian dari Allah SWT.

Bicara cikal-bakal, asal-usul, dan proses kejadian makhluk yang dalam kehidupan manusia dikenal dengan istilah nasab, adalah Iblis makhluk yang pertama kali membanggakan asal-usulnya. Dan, dia mengatakan: “Saya lebih baik dan lebih mulia dari Adam karena saya diciptakan dari Api dan Adam dari Tanah”.

Iblis yang tidak lain adalah golongan Jin yang berbuat fasiq dan diciptakan dari api, maka karakter api ini mewarnai hati, ucapan, fikiran, dan prilakunya. Dan, api sifatnya menerangi, hal ini mengandung arti bahwa iblis adalah figur makhluk yang bisa memberi penerangan melalui ucapan, yaitu media yang bernuansa panas hingga bisa membakar hati dan fikiran.

Iblis yang menentang perintah Allah hingga dia hidup terlaknat dan dikucilkan oleh Allah, tentu saja iblis punya rasa dendam dan kebencian. Tapi, rasa dendam dan kebenciannya dilampiaskan kepada Adam.

Untuk selanjutnya Iblis bekerja sama dengan Jin dalam melampiaskan dendam dan kebenciannya. Tapi, karena Iblis dan Jin tidak punya organisasi atau partai maka akhirnya Iblis dan Jin berkoalisi dengan Syetan karena sesuai penjelasan Allah bahwa Syetan itu punya partai, yaitu PARTAI SYETAN.

  ربنا عليك توكلنا واليك انبنا واليك المصير

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top